Cuaca Panas Ekstrem: Tips Dokter Jaga Bayi, Balita, dan Lansia

Penulis: Kemal Batubara  •  Senin, 19 Oktober 2026 | 13:38:31 WIB
Dokter spesialis paru RSUM Ponorogo, dr. Nurul Atika, Sp.P, menjelaskan kelompok rentan terhadap cuaca panas ekstrem.

KALIMANTAN UTARA — Cuaca panas yang melanda Kabupaten Ponorogo dalam beberapa hari terakhir membuat bayi, balita, dan lansia paling rentan terganggu kesehatannya. Dokter Spesialis Paru RSUM Ponorogo, dr. Nurul Atika, Sp.P, membagikan langkah antisipasi sederhana yang bisa ibu terapkan di rumah, mulai dari asupan cairan hingga pengenalan tanda bahaya.

Bayi dan balita belum bisa mengungkapkan rasa haus dengan jelas, sementara lansia sering kehilangan sensitivitas terhadap dehidrasi. Dua kondisi itu membuat keduanya lebih cepat lemas saat suhu udara naik.

dr. Nurul Atika menyebut gangguan yang muncul bisa beragam, dari masalah pernapasan hingga memperburuk penyakit bawaan. Kelompok dengan riwayat paru-paru, jantung, dan hipertensi perlu pengawasan ekstra.

Mengapa Bayi, Balita, dan Lansia Paling Rentan

“Bayi, balita, dan lansia termasuk kelompok yang rentan mengalami gangguan kesehatan akibat cuaca panas. Risikonya juga perlu diwaspadai pada lansia yang memiliki riwayat penyakit, seperti gangguan paru-paru, jantung, maupun hipertensi,” jelas dr. Nurul Atika.

Pada bayi, kemampuan mengatur suhu tubuh belum matang sempurna. Sementara lansia sering tidak merasa haus meski tubuh sudah kekurangan cairan.

Perbanyak Air Putih, Kurangi Aktivitas di Luar Ruangan

Langkah paling dasar menurut dr. Nurul adalah mencukupi kebutuhan cairan. Untuk bayi di bawah 6 bulan, cukup ASI. Balita dan anak yang lebih besar bisa diberi air putih lebih sering dari biasanya.

Aktivitas fisik berlebihan di luar ruangan sebaiknya dikurangi saat suhu sedang tinggi. Pilih waktu pagi atau sore untuk bermain di luar.

Jaga juga kondisi rumah tetap sejuk. Buka jendela agar sirkulasi udara lancar, atau gunakan kipas angin saat ruangan terasa pengap.

Tanda Tubuh Mulai Terganggu Akibat Panas

Kenali gejalanya sejak awal. Tubuh yang mulai lemas dan kelelahan berlebihan adalah sinyal pertama yang tidak boleh diabaikan.

“Jika tubuh mulai terasa lemas atau mengalami kelelahan yang berlebihan, masyarakat perlu segera beristirahat dan mencukupi kebutuhan cairan. Apabila keluhan terus terjadi atau kondisinya semakin memburuk, sebaiknya segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan,” pungkasnya.

Kapan Harus ke Dokter

Bawa si kecil atau lansia di rumah ke fasilitas kesehatan jika keluhan tidak membaik setelah istirahat dan minum cukup. Waspadai juga tanda seperti kulit sangat kering, jarang buang air kecil, atau tubuh terasa panas tanpa keringat.

Pada lansia dengan riwayat penyakit jantung, paru-paru, atau hipertensi, jangan tunggu gejala memburuk. Konsultasi lebih awal membantu mencegah komplikasi.

Menjaga keluarga tetap sehat saat cuaca panas tidak perlu rumit. Cukupi cairan, atur waktu bermain di luar, dan jaga rumah tetap sejuk. Perhatian kecil pada bayi, balita, dan lansia di rumah membuat mereka lebih aman melewati hari-hari panas.

Reporter: Kemal Batubara
Sumber: gemasuryafm.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top