Film Masc Review: Joshua Griffin Cari Jati Diri Lewat Observasi

Penulis: Kemal Batubara  •  Minggu, 13 September 2026 | 18:37:32 WIB
Joshua Griffin memerankan Robin dalam film "Masc" karya sutradara Nilsson.

KALIMANTAN UTARA — Sepanjang satu tahun, Robin mengubah penampilannya lima kali. Ia mencoba berbagai pekerjaan, tempat, dan lingkaran pertemanan untuk menemukan versi dirinya yang paling pas.

Premis: Identitas yang Diperoleh Lewat Imitasi

Robin bekerja sebagai asisten tukang dan asisten laboratorium. Ia bergabung dengan kelompok terapi dan mencari kedekatan dengan pria-pria seusianya. Dari interaksi itu, ia meniru tingkah laku mereka, memodelkan kepribadiannya, dan berusaha memahami alasan di balik perilaku orang-orang di sekitarnya.

Nilsson menulis "Masc" berdasarkan cerita yang ia kembangkan bersama Griffin. Kolaborasi keduanya terasa organik. Situasi yang dihadapi Robin mengalir natural, kadang seperti dokumenter observasional, meski film ini jelas karya fiksi.

Pendekatan Naratif: Saat Penonton Masuk ke Kepala Robin

Nilsson tidak hanya menempatkan penonton dalam sudut pandang Robin. Ia juga membangun adegan yang memperlihatkan bagaimana Robin membayangkan sesuatu, bagaimana ia berharap situasi berkembang.

Salah satu adegan paling halus menggambarkan Robin menginap di rumah temannya, Benji (Tega Alexander). Penonton diajak merasakan perasaan Robin yang berubah-ubah sepanjang malam, harapan dan ketakutannya tentang apa yang mungkin terjadi.

Penampilan Joshua Griffin: Membawa Seluruh Film di Pundaknya

Griffin tampil di hampir setiap frame. Kontrol fisiknya kuat, membuat adegan-adegan sunyi tetap memikat. Kehadirannya memancarkan kegelisahan sekaligus ketenangan, mencerminkan kompleksitas Robin yang terus mengamati dan mencatat orang lain.

Ketika sendirian, gerak tubuh Robin lebih rileks dan berirama. Dalam close-up, matanya menyampaikan segala yang dirasakan karakternya: selalu waspada, selalu memperhatikan.

Kerapuhan Griffin paling terasa dalam adegan panjang bersama ayahnya (Lincoln Conway). Di situ Robin tidak sedang mengamati, ia hanya ada. Ia masih takut tidak dicintai, tapi ia paling terbuka. Mungkin bentuk maskulinitas yang familiar inilah yang selama ini ia cari.

Makna di Balik Observasi

Yang membuat "Masc" kuat adalah cara Nilsson mengubah observasi menjadi mode pembentukan diri. Robin mempelajari pria-pria di sekitarnya seolah mereka menawarkan tata bahasa untuk hidup. Ia meminjam gestur, rutinitas, dan afek mereka untuk menemukan sesuatu yang stabil dalam dirinya.

Film ini memahami identitas bukan sebagai sesuatu yang menunggu ditemukan, melainkan sesuatu yang terus dinegosiasikan melalui imitasi, keinginan, dan penolakan. Bagi mereka yang berada di luar gagasan maskulinitas yang sudah ditentukan, menjadi diri sendiri bisa berarti harus lebih dulu belajar membaca orang lain.

"Masc" menjadi studi karakter yang sensitif tentang pencarian jati diri, dibangun dari kolaborasi erat antara sutradara dan aktornya.

Reporter: Kemal Batubara
Sumber: variety.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top