KALIMANTAN UTARA — Kesepakatan antara manajemen dan serikat pekerja VW mengonfirmasi tambahan pemangkasan 50 ribu posisi hingga 2030. Sebelumnya, perusahaan sudah merencanakan pengurangan 50 ribu karyawan, sehingga totalnya menjadi 100 ribu orang. Angka ini dua kali lipat lebih besar dibandingkan PHK massal General Motors (GM) pasca-bangkrut pada 2009 yang mencapai 50 ribu pekerja.
Fasilitas produksi di Hannover, Emden, Zwickau, dan Neckarsulm—yang merupakan pabrik Audi—terancam tutup permanen dalam delapan tahun ke depan. Jika terealisasi, ini menjadi penutupan pabrik berskala penuh pertama dalam sejarah VW di negara asalnya.
Martin Lehmann, pekerja di fasilitas Zwickau sejak 2012, menggambarkan dampaknya bagi kawasan tersebut. "Jika pabrik ini benar-benar ditutup, Anda bisa menandainya dengan titik hitam besar di peta. Pabrik ini dan lapangan kerja di sekitarnya—termasuk para pemasok kami—merupakan penggerak utama bagi seluruh wilayah ini," ujarnya kepada AFP.
Keputusan restrukturisasi ini diambil setelah laba perusahaan merosot 44 persen. Kondisi pasar memburuk akibat aturan tarif dagang AS yang membebani ekspor, ditambah agresivitas pabrikan China di segmen kendaraan listrik serta dominasi merek Jepang di berbagai pasar utama.
"Sangatlah penting untuk menyelaraskan jumlah tenaga kerja secara sistematis dengan realitas ekonomi," bunyi keterangan resmi VW seperti dikutip AFP, Rabu (9/9).
Rencana penutupan pabrik oleh produsen mobil terbesar Eropa ini menjadi pukulan telak bagi pemerintah Jerman. Sebelumnya, otoritas Berlin telah berupaya membujuk VW untuk mempertimbangkan ulang nasib pabrik-pabrik tersebut demi menjaga stabilitas ekonomi domestik yang tengah lesu.
Bagi pekerja, skema PHK ini masih menyisakan tanda tanya besar terkait kompensasi dan program pensiun dini. Belum ada rincian lebih lanjut mengenai paket pesangon atau skema transisi bagi 100 ribu karyawan yang akan kehilangan pekerjaannya.