KALIMANTAN UTARA — Video jurnalis Pakistan Muhammad Aalijah yang tengah menjajal kendaraan berpenggerak otonom viral di media sosial. Alih-alih menunjukkan kecanggihan teknologi, rekaman itu justru memperlihatkan momen kendaraan tiba-tiba berbelok dan menabrak mobil polisi yang tengah parkir.
Insiden ini menarik untuk disorot, bukan sekadar bahan tertawaan warganet. Ada pelajaran penting soal kesiapan teknologi kendaraan jarak jauh yang masih mengandalkan koneksi internet — sesuatu yang relevan bagi pasar otomotif Indonesia yang mulai melirik fitur kendaraan terhubung dan semi-otonom.
Aalijah menjelaskan insiden itu dipicu gangguan teknis. "Semuanya baik-baik saja sampai terjadi gangguan teknis akibat terputusnya koneksi internet yang menyebabkan mobil itu kehilangan kendali dan menabrak kendaraan polisi," katanya seperti dikutip Dawn.
"Kendaraan itu dioperasikan melalui koneksi satelit dan internet, tetapi saat dikendalikan dari jarak jauh, kendaraan itu hilang kendali begitu koneksi internet terputus," tambahnya.
Poin krusial dari pengakuan ini: yang bermasalah bukanlah logika navigasi atau sensor kendaraan, melainkan ketergantungan penuh pada koneksi jaringan. Ketika data terhenti, kendaraan tidak masuk ke mode aman (fail-safe) seperti berhenti di tempat. Ia justru melaju tak terkendali hingga menabrak.
Dari sisi teknis, insiden ini menyoroti tiga celah yang wajib diperbaiki oleh pengembang teknologi kendaraan jarak jauh:
Kejadian ini juga jadi pengingat bahwa teknologi "remote driving" berbeda dengan autonomous driving sesungguhnya. Dalam sistem autonomous penuh, mobil mengandalkan sensor, kamera, dan komputasi di dalam kendaraan (edge computing), bukan perintah dari pusat kontrol yang bergantung pada jaringan. Tapi dalam kasus demo di Pakistan, peran internet sangat dominan sehingga gangguan sekecil apa pun langsung berdampak fatal.
Di Indonesia, topik kendaraan terhubung dan fitur bantuan mengemudi mulai marak — mulai dari adaptive cruise control hingga kemampuan update over-the-air. Namun peta jalan menuju kendaraan otonom penuh di dalam negeri masih panjang, dan kendala infrastruktur jaringan adalah salah satu PR terbesar.
Pelajaran dari insiden Pakistan: teknologi yang bergantung pada server dan jaringan publik tidak boleh diposisikan setara dengan teknologi yang mandiri di kendaraan. Untuk pasar kita, kejadian ini menjadi catatan agar tidak mudah terbuai klaim "self-driving" atau "tanpa sopir" dari pabrikan, terutama jika sistemnya masih mengandalkan pengendalian jarak jauh atau koneksi seluler.
Di balik olok-olok warganet yang menjadikan kejadian ini bahan candaan — termasuk cuitan aktor India Ranvir Shorey yang menyebutnya "The Masla" sebagai plesetan Tesla — ada pertanyaan serius yang jarang diangkat: apakah demo-demo semacam ini dilakukan dengan protokol keselamatan yang benar?
Menguji kendaraan jarak jauh di jalan umum dengan mobil polisi yang parkir di sekitar area uji bukanlah skenario yang ideal. Idealnya, demo tahap awal dilakukan di sirkuit tertutup, dengan pembatas fisik, serta tim tanggap darurat yang bisa menghentikan kendaraan secara manual.
Insiden ini menunjukkan bahwa euforia teknologi tanpa diiringi standar keselamatan yang matang hanya menghasilkan kecelakaan yang bisa dicegah. Kabar baiknya, tidak ada korban jiwa atau luka berat — yang tertabrak hanya mobil polisi yang sedang parkir. Nasib baik yang mungkin tidak akan terulang jika area demo lebih ramai.
Terlepas dari kegagalan demo ini, pengembangan kendaraan otonom atau remote-controlled tetap merupakan arah industri yang menarik. Ehsan Zafar, penghobi teknologi asal Abbottabad yang mengembangkan sistem ini, layak diapresiasi atas inisiatifnya — tapi ia juga harus belajar dari kegagalan ini.
Pasar Indonesia sendiri masih menunggu kehadiran kendaraan dengan level otonomi yang sesungguhnya. Untuk saat ini, fitur-fitur seperti adaptive cruise control dan lane keeping assist yang sudah tersedia di mobil-mobil modern masih mengandalkan sensor on-board dan tidak terpengaruh langsung oleh koneksi internet. Namun, ekspansi ke teknologi Vehicle-to-Everything (V2X) yang mengharuskan komunikasi antar kendaraan dan infrastruktur tetap akan menemui tantangan serupa.
Momentum ini bisa dijadikan bahan diskusi: sebelum pemerintah dan industri serius membahas regulasi kendaraan otonom di Indonesia, kasus di Pakistan ini sudah memberi contoh nyata bahwa infrastruktur jaringan dan protokol keselamatan adalah fondasi yang tidak bisa ditawar. Tanpa fondasi itu, fitur "tanpa sopir" hanya akan menjadi bom waktu.