KALIMANTAN UTARA — Setelah dua dekade memuja Bugatti Veyron dari layar kaca dan halaman majalah, kesempatan untuk duduk di kursi pengemudinya akhirnya tiba. Bugatti mengundang sejumlah jurnalis ke dealer Newport Beach untuk merayakan ulang tahun ke-20 Veyron sekaligus menjajal unit milik kolektor lokal. Saya mendapat kepercayaan mengendarai Grand Sport Vitesse bernama L'Orq Blanc, mobil yang sehari-hari dipakai pemiliknya keliling Los Angeles dengan odometer 8.464 mil saat saya masuk ke kabin.
Pengalaman dimulai dari membuka kunci dengan switchblade key khas Volkswagen yang charming. Masukkan ke slot di sisi kanan setir, putar, dan lima gauge di dasbor menyala dengan ikon penuh warna. Sentuh tombol start bulat di konsol tengah, starter motor berdengung sesaat, lalu ledakan suara mesin W16 quad-turbo memecah keheningan.
Jujur, sebelum berangkat saya gugup setengah mati. Pikiran tentang kerusakan, kecelakaan, atau kekecewaan terus menghantui. Kekhawatiran itu sirna begitu roda mulai berputar.
Rute 30 mil yang membentang dari dealer ke Laguna Beach dan kembali lewat Pacific Coast Highway dipadati lalu lintas sore. Alih-alih frustrasi, kemacetan justru jadi ajang pembuktian filosofi Ferdinand Piëch: Veyron harus mampu melaju 250 mph di Autobahn lalu dengan elegan meluncur ke depan gedung opera. Klise "mengemudi seperti Golf" dari Top Gear ternyata akurat.
Dengan panel kaca atap terpasang, kabin terasa senyap bahkan di kecepatan 90 mph. Saya bisa mengobrol santai dengan Jamie Morrow, pembalap yang mendampingi, tanpa perlu meninggikan suara. Bising ban dari ban raksasa pun tertahan baik. Ini bukan supercar garang, melainkan grand tourer sejati yang nyaman dipakai harian.
Bagian paling menarik dari undangan ini adalah melihat bagaimana pemilik L'Orq Blanc memperlakukan Veyron-nya. Mobil ini bukan pajangan garasi—ia benar-benar dikendarai di jalanan LA. Digital readout di gauge daya menunjukkan angka 8.464 mil, bukti bahwa Veyron memang dirancang untuk digunakan, bukan sekadar dikagumi.
Bugatti juga memperkenalkan recommission configurator baru, alat bagi pemilik untuk merestorasimobil mereka sesuai spesifikasi awal. Langkah ini sekaligus menjaga nilai historis Veyron yang kini berstatus legenda.
Satu jam bersama Veyron terasa singkat, tapi cukup untuk mengukuhkan posisinya sebagai mobil paling superlative yang pernah dibuat. Meski lalu lintas membatasi akselerasi penuh, karakter mesin yang mulus, handling presisi, dan kualitas berkendara yang tenang sudah cukup menjelaskan mengapa mobil ini disebut mahakarya.
Bagi saya pribadi, ini adalah pertemuan dengan idola yang tidak mengecewakan. Veyron tidak hanya memenuhi ekspektasi—ia melampauinya dengan cara yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. "Perfect" mungkin klise, tapi itu kata yang paling jujur untuk menggambarkan pengalaman ini.