KALIMANTAN UTARA — BYD membawa M6 DM ke Medan untuk pengujian kedua setelah rute Jakarta-Sentul-Serpong. Kali ini, konturnya jauh lebih menantang: jalan berkelok, tanjakan panjang, dan turunan curam khas dataran tinggi Sumatera Utara. Rute yang dipilih menghubungkan Medan menuju Berastagi, memutar lewat Pancur Batu, lalu kembali ke Medan — total sekitar 150 kilometer.
Dari 11 unit BYD M6 DM yang diuji, hasil konsumsi BBM terbaik mencatatkan 79 kilometer per liter. Dengan angka itu, biaya per kilometer hanya Rp244, dengan konsumsi bahan bakar 1,89 liter dan penggunaan baterai 7,1 kWh untuk menempuh seluruh rute.
Namun, angka terbaik itu tidak mewakili seluruh peserta. Data rata-rata dari 11 unit justru lebih penting untuk diperhatikan — karena menunjukkan beban kerja mesin bensin di jalur menanjak yang sebenarnya. Sayangnya, bahan artikel ini tidak menyebutkan angka rata-rata tersebut secara eksplisit, jadi patut dicatat bahwa 79 km/liter adalah kondisi optimal, bukan konsumsi tipikal harian.
Rute Medan-Berastagi-Pancur Batu-Medan didominasi dataran tinggi dan perbukitan. Berbeda dengan kombinasi tol dan jalan kota yang mendominasi rute uji Jakarta, medan ini memiliki rangkaian tanjakan, turunan, dan tikungan yang berkesinambungan. Kondisi seperti ini menguji performa sistem hybrid M6 DM secara lebih realistis — terutama saat mesin bensin harus bekerja ekstra di tanjakan dan sistem regenerasi mengisi baterai di turunan.
BYD M6 DM membuktikan sistem hybrid-nya bisa bekerja efisien di jalur perbukitan Berastagi. Catatan 79 km/liter adalah pencapaian teknis yang impresif. Namun, sebagai pembeli yang akan mengeluarkan puluhan juta rupiah, jangan jadikan angka terbaik itu sebagai patokan utama. Tunggu data konsumsi rata-rata dari pengguna independen atau review jangka panjang untuk gambaran yang lebih jujur soal irit tidaknya MPV hybrid ini di kondisi jalan Indonesia sehari-hari.