NUNUKAN — Cuaca ekstrem yang melanda wilayah perbatasan di Krayan tidak hanya memicu hujan es, tetapi juga angin kencang yang merusak sejumlah bangunan. Data dari Stasiun Meteorologi Kelas III Yuvai Semaring mencatat curah hujan mencapai 75 milimeter per hari dengan kecepatan angin maksimum 18 knot.
Peristiwa ini terjadi sekitar pukul 16.00 hingga 18.00 Wita. Selain satu rumah yang tertimpa pohon, beberapa atap rumah warga dan atap tempat ibadah di Desa Long Katung, Kecamatan Krayan, terlepas akibat terjangan angin. Satu pagar rumah dan tiang radio Single Side Band (SSB) juga dilaporkan roboh.
Tim respons cepat bencana hidrometeorologi langsung turun ke lokasi untuk melakukan pendataan. Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan korban jiwa, namun kerugian material diperkirakan cukup besar akibat kerusakan bangunan dan fasilitas komunikasi warga.
Forecaster on Duty BMKG, Muhammad Hermansyah, menjelaskan bahwa kondisi atmosfer yang labil menjadi pemicu utama. Suhu muka laut di perairan Kalimantan Utara berkisar antara 30 hingga 32 derajat Celsius, dengan anomali plus 0,5 hingga 1 derajat Celsius. Kondisi ini meningkatkan aktivitas konvektif atau pembentukan awan hujan.
“Keadaan cuaca hujan lebat mulai dilaporkan pada tanggal 16 Juli 2026 pukul 16.00 Wita hingga 18.00 Wita,” ujarnya.
Analisis citra satelit menunjukkan awan hujan mulai terdeteksi pada pukul 16.00 Wita dengan suhu puncak awan mencapai minus 69 derajat Celsius. Suhu sedingin itu menandakan awan telah mencapai puncak troposfer, yang biasanya menghasilkan hujan es dan angin kencang.
Data radar cuaca juga mengonfirmasi peningkatan reflektivitas hingga 35 desibel Z pada pukul 16.57 Wita, menandakan intensitas hujan yang lebat. Selain itu, aktifnya Gelombang Kelvin yang bergerak ke timur melintasi Kalimantan Utara turut mendukung pertumbuhan awan konvektif.
BMKG mencatat kelembapan udara di wilayah Krayan mencapai 80 hingga 100 persen pada lapisan 925–700 milibar. Sementara itu, nilai K-Index yang berada di atas 30 dan Lifted Index (LI) yang negatif menunjukkan potensi tinggi terbentuknya awan Cumulonimbus yang memicu cuaca ekstrem.
BMKG mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. Potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang disertai angin kencang dan petir masih berpeluang terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan Utara selama tujuh hari ke depan. Warga di daerah rawan longsor dan pohon tumbang diminta untuk selalu memantau informasi cuaca terkini.