KALIMANTAN UTARA — Kenaikan biaya operasional, terutama avtur yang bisa mencapai sepertiga dari total pengeluaran, menjadi pukulan telak bagi maskapai yang baru pulih dari pandemi. Kepala EMEA Interpath, Barema Bocoum, mengungkapkan saat ini pihaknya menangani empat hingga lima kasus restrukturisasi maskapai besar di Eropa.
EasyJet, maskapai berbiaya rendah asal Inggris, dikabarkan semakin dekat dengan proses akuisisi oleh investor Amerika Serikat. Transaksi ini berpotensi membawa maskapai berusia 30 tahun itu kembali menjadi perusahaan tertutup dengan valuasi jauh di bawah puncaknya sebelum pandemi.
Sementara itu, airBaltic asal Latvia tengah berjuang mencari pendanaan jangka pendek untuk menghindari gagal bayar. Imbal hasil obligasi airBaltic jatuh tempo 2029 melonjak tahun ini, mencerminkan meningkatnya persepsi risiko di mata investor. Norse Atlantic asal Norwegia juga melakukan peninjauan strategi bisnisnya.
Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) bulan lalu memangkas hampir separuh proyeksi laba industri penerbangan global pada 2026. Konflik di Timur Tengah tidak hanya menaikkan biaya bahan bakar, tetapi juga mengganggu jalur penerbangan utama dan memperlihatkan tipisnya margin keuntungan sektor tersebut.
Akibatnya, maskapai mulai menahan ekspansi. Airbus pun memangkas proyeksi permintaan pesawat penumpang untuk 20 tahun ke depan. Penasihat penerbangan Bertrand Grabowski mengatakan mayoritas maskapai di AS, Eropa, dan Asia Tenggara kini hanya menargetkan pertumbuhan kapasitas yang sangat terbatas. "Selain beberapa pengecualian seperti Turkish Airlines, mayoritas maskapai sangat berhati-hati dalam menambah kapasitas," ujarnya.
Analis penerbangan James Halstead menilai maskapai kecil menghadapi risiko paling besar. Menurutnya, kehilangan penumpang pada musim panas dapat berdampak fatal bagi perusahaan yang sangat bergantung pada kas. "Mereka mungkin masih bisa bertahan sepanjang musim panas, tetapi tantangan terbesar biasanya muncul pada awal tahun depan. Umumnya maskapai kehabisan kas pada Februari," katanya.
Maskapai Polandia LOT telah lama disebut sebagai target konsolidasi. Analis penerbangan asal Inggris Rob Morris menambahkan, "Rasanya siklus pemulihan ini hampir berakhir bahkan sebelum benar-benar dimulai."