Festival Iraw Tengkayu XV di Tarakan: Perahu Adat Padaw Tuju Dulung Dilarung, Simbol Syukur Masyarakat Tidung

Penulis: Galih Prayoga  •  Senin, 06 Juli 2026 | 17:34:01 WIB
Perahu adat Padaw Tuju Dulung dilarung sebagai simbol syukur masyarakat Tidung di Festival Iraw Tengkayu XV.

TARAKAN — Bagi masyarakat Suku Tidung, momen itu bukan sekadar atraksi wisata. Pelarungan Padaw Tuju Dulung adalah tradisi turun-temurun yang sarat makna syukur atas hasil laut yang telah menghidupi mereka dari generasi ke generasi.

Plt. Asisten Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setdaprov Kaltara, Drs. H. Sanusi, M.Si., yang hadir mewakili Gubernur, menyebut tradisi ini menjadi simbol rasa syukur masyarakat pesisir. "Iraw Tengkayu telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia dalam kategori ritus budaya, sehingga pelestariannya menjadi tanggung jawab bersama," kata Sanusi dalam sambutannya di lokasi acara.

Pelarungan Perahu Adat di Pantai Amal Lama

Prosesi ini menjadi puncak rangkaian Festival Iraw Tengkayu XV. Deru ombak Pantai Amal Lama berpadu dengan sorak warga saat perahu adat perlahan bergerak meninggalkan bibir pantai menuju laut lepas.

Sanusi memberikan apresiasi kepada Pemerintah Kota Tarakan dan seluruh masyarakat Tidung yang masih setia menjaga tradisi ini. Ia menekankan bahwa ritual tahunan ini bukan hanya milik satu kelompok etnis, melainkan kebanggaan seluruh warga Kalimantan Utara.

Generasi Muda Didorong Kembangkan Konten Digital

Menurut Sanusi, tantangan terbesar ke depan adalah memastikan tradisi ini tidak berhenti sebagai cerita masa lalu. Ia mendorong generasi muda untuk memanfaatkan teknologi, seni, dan media digital agar Iraw Tengkayu semakin dikenal luas tanpa kehilangan nilai-nilai aslinya.

"Generasi muda dapat menghadirkan Iraw Tengkayu dalam berbagai karya kreatif sehingga tradisi ini tetap hidup dan terus dikenal," ujarnya.

Potensi Destinasi Wisata Budaya Kaltara

Sanusi optimistis, jika dikelola secara profesional, Festival Iraw Tengkayu bisa berkembang menjadi destinasi wisata budaya unggulan. Dampak ekonominya diyakini bisa dirasakan langsung oleh masyarakat, sekaligus memperkuat citra Kalimantan Utara di kancah nasional.

Saat Padaw Tuju Dulung akhirnya menghilang di balik ombak, yang tersisa bukan hanya jejak sebuah perahu di lautan. Tersimpan harapan agar semangat persatuan, gotong royong, dan penghormatan kepada warisan leluhur terus berlayar bersama generasi penerus di Bumi Benuanta.

Reporter: Galih Prayoga
Sumber: headlinews.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top