KALIMANTAN UTARA — Proyeksi penurunan harga BBM nonsubsidi ini disampaikan langsung oleh Sekretaris Jenderal Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI), Hadi Ismoyo. Menurutnya, tekanan geopolitik yang mereda menjadi katalis utama turunnya harga minyak mentah global, yang pada akhirnya membuka ruang bagi pemerintah dan badan usaha untuk melakukan evaluasi harga di tingkat konsumen.
Harga jual BBM nonsubsidi di Indonesia mengacu pada harga minyak mentah global, terutama Brent. Selama beberapa pekan terakhir, tensi tinggi di Timur Tengah sempat mendorong harga minyak naik. Kini, dengan meredanya ketegangan antara AS dan Iran, pasar mulai tenang dan harga Brent pun terkoreksi.
“Kami melihat ada potensi penurunan harga jual BBM nonsubsidi pada bulan Juli mendatang,” ujar Hadi Ismoyo. Ia menambahkan bahwa mekanisme pasar dan formula harga yang berlaku memungkinkan penyesuaian jika tren penurunan harga minyak mentah berlanjut.
Jika proyeksi ini terealisasi, konsumen yang menggunakan BBM nonsubsidi seperti Pertamax (RON 92), Pertamax Turbo (RON 98), Dexlite (CN 51), dan Pertamina Dex (CN 53) akan merasakan penurunan biaya operasional kendaraan. Penurunan harga BBM nonsubsidi biasanya diikuti oleh penurunan harga di SPBU dalam rentang Rp 200 hingga Rp 500 per liter, tergantung pada besaran koreksi harga minyak mentah.
Penurunan ini tentu menjadi angin segar di tengah fluktuasi harga komoditas yang kerap membebani pengeluaran rumah tangga, terutama bagi mereka yang mengandalkan kendaraan pribadi untuk mobilitas harian.
Hadi Ismoyo memproyeksikan perubahan harga baru akan efektif pada Juli 2026. Ini karena evaluasi harga biasanya dilakukan secara berkala oleh PT Pertamina (Persero) dengan mempertimbangkan rata-rata harga minyak mentah dalam periode tertentu. Dengan kata lain, konsumen belum akan melihat perubahan harga di SPBU dalam waktu dekat, setidaknya hingga awal bulan depan.
Kepastian mengenai besaran penurunan dan jenis BBM mana yang terdampak masih menunggu pengumuman resmi dari Pertamina. Namun, sinyal dari IATMI ini menjadi indikator awal yang positif bagi pasar otomotif dan transportasi di Indonesia.