KALIMANTAN UTARA — The Three Lions datang dengan modal besar usai menggilas Kroasia 4-2 pada laga pembuka. Kemenangan itu bukan sekadar tiga poin, tapi juga bukti filosofi ofensif Thomas Tuchel mulai bekerja. Inggris mencatatkan 20 tembakan dari dalam kotak penalti — rekor baru dalam sejarah Piala Dunia untuk jumlah percobaan dari area berbahaya.
Harry Kane kembali menjadi ujung tombak yang diandalkan, didukung pergerakan agresif Jude Bellingham dan Marcus Rashford. Kemenangan atas Kroasia juga memutus rantai sembilan laga tanpa kemenangan Inggris di Piala Dunia melawan tim penghuni 15 besar ranking dunia.
Jika menang atas Ghana, Inggris akan meraih empat kemenangan beruntun di semua kompetisi. Catatan itu mempertegas efektivitas pendekatan ofensif Tuchel yang mulai menemukan formula serangan tajam.
Ghana tidak tampil semewah Inggris, tapi efektivitas mereka patut diperhitungkan. The Black Stars hanya butuh satu gol untuk menundukkan Panama — dicetak pemain berusia 20 tahun, Caleb Yirenkyi, pada menit akhir melalui serangan balik cepat.
Kemenangan itu mengakhiri empat laga tanpa kemenangan Ghana dan menjaga asa lolos ke fase gugur untuk pertama kalinya sejak 2010. Catatan head-to-head juga memberi kepercayaan diri: satu-satunya pertemuan melawan Inggris pada 2011 berakhir imbang 1-1, dengan Asamoah Gyan menjadi pahlawan penyeimbang.
Secara kualitas skuad, Inggris tetap diunggulkan. Namun, Ghana memiliki disiplin bertahan dan kecepatan transisi yang bisa merepotkan. Carlos Queiroz, pelatih Ghana, dikenal mampu meracik strategi pragmatis yang efektif melawan tim besar.
Laga ini berpotensi berjalan terbuka. Jika Inggris mampu menjaga keseimbangan antara menekan dan bertahan, peluang mengamankan tiket gugur terbuka lebar. Sebaliknya, satu momen lengah bisa dimanfaatkan Ghana lewat serangan balik mematikan.