Riset yang dipublikasikan di jurnal JAMA Internal Medicine pada pekan lalu mengonfirmasi bahwa vaksin yang diperbarui mampu menekan angka kejadian kardiovaskular utama yang terkait infeksi COVID-19. Istilah medisnya adalah MACE — major adverse cardiovascular events — yang mencakup kematian akibat penyakit jantung, serangan jantung, stroke, hingga rawat inap karena gagal jantung.
Kelompok usia di atas 75 tahun dan individu dengan kondisi medis yang sudah ada sebelumnya mendapat perlindungan paling kuat. Data menunjukkan penurunan risiko yang konsisten, bahkan setelah varian virus berubah dan kekebalan populasi meningkat akibat infeksi alamiah maupun vaksinasi sebelumnya.
Ini bukan temuan pertama. Studi sebelumnya sudah membuktikan bahwa vaksinasi awal secara dramatis menurunkan risiko kardiovaskular terkait COVID-19. Namun, yang membuat riset kali ini krusial: para ilmuwan ingin memastikan efek perlindungan itu tidak memudar seiring waktu. Dan jawabannya: tidak.
Meski bukti ilmiah terus menguat, mayoritas warga Amerika kini memilih untuk tidak mengambil dosis terbaru vaksin COVID-19. Narasi anti-vaksin yang meluas disebut sebagai penyebab utama turunnya angka vaksinasi. Padahal, virus SARS-CoV-2 belum sepenuhnya jinak.
Infeksi COVID-19 diketahui memicu peradangan sistemik yang bisa berujung pada kerusakan pembuluh darah dan pembekuan darah — dua mekanisme utama di balik serangan jantung dan stroke. Vaksin bekerja dengan meredam respons inflamasi tersebut sejak awal infeksi.
Sistem kesehatan VA memang tidak identik dengan populasi umum, tetapi skalanya — lebih dari satu juta pasien — memberikan bobot statistik yang kuat. Untuk Indonesia, temuan ini relevan mengingat angka penyakit jantung koroner masih menjadi pembunuh nomor satu, dan cakupan vaksinasi COVID-19 dosis penguat masih rendah di sejumlah daerah.
Data dari Kementerian Kesehatan per awal 2025 menunjukkan bahwa baru sekitar 30 persen dari target populasi yang menerima vaksinasi dosis keempat atau booster kedua. Padahal, varian baru terus bermunculan dan risiko komplikasi kardiovaskular tidak bisa diabaikan begitu saja.
Studi ini tidak menyatakan bahwa vaksin adalah satu-satunya tameng. Perlindungan terbaik tetap kombinasi antara vaksinasi, pola makan seimbang, dan kontrol tekanan darah serta kolesterol. Namun, bagi mereka yang memiliki faktor risiko — usia lanjut, diabetes, hipertensi, atau riwayat penyakit jantung — vaksin terbaru menawarkan lapisan pertahanan yang tidak boleh dilewatkan.
Peneliti VA menekankan bahwa temuan ini seharusnya menjadi pengingat bagi pembuat kebijakan dan tenaga kesehatan: komunikasi publik tentang manfaat vaksin perlu diperbarui, tidak hanya mengulang data lama. Karena jika narasi anti-vaksin terus dibiarkan, angka kematian akibat komplikasi kardiovaskular yang sebenarnya bisa dicegah justru akan kembali naik.