KALIMANTAN UTARA — Asosiasi Mobil Penumpang China (CPCA) merilis data ekspor EV yang mencengangkan untuk Mei 2026. Dari total pengiriman mobil ke luar negeri, kendaraan listrik kini menyumbang 54,1 persen—melonjak 9,5 poin persentase dari Mei 2025. Artinya, lebih dari separuh mobil yang diekspor China sudah tanpa mesin bensin.
Dari 424.000 unit yang terkirim, mobil listrik baterai (BEV) menguasai 59,3 persen. Namun angka ini turun dibanding Mei 2025 yang mencapai 66,1 persen. Penurunan ini menunjukkan diversifikasi produk ekspor China, di mana plug-in hybrid (PHEV) mulai mengambil porsi lebih besar.
Data CPCA tidak merinci angka spesifik untuk masing-masing merek. Namun tren ini selaras dengan strategi produsen China yang mulai gencar mendorong PHEV ke pasar global, termasuk Asia Tenggara dan Eropa.
Lonjakan ekspor ini terjadi di tengah meningkatnya tensi dagang antara China dan negara-negara Barat. Sejumlah negara seperti Amerika Serikat dan Uni Eropa telah memberlakukan tarif tambahan untuk mobil listrik buatan China. Meski begitu, permintaan dari pasar berkembang seperti Brasil, Meksiko, dan kawasan ASEAN tetap kuat.
Menurut laporan Business Today yang dirilis Selasa (9/6/2026), pertumbuhan ekspor EV China tidak menunjukkan tanda-tanda melambat. Kapasitas produksi domestik yang melimpah dan harga jual yang kompetitif menjadi daya ungkit utama.
Bagi pengamat otomotif Indonesia, data ini penting dicermati. China adalah pemasok utama mobil listrik Completely Built-Up (CBU) ke Tanah Air. Merek seperti BYD, Wuling, dan MG yang gencar berekspansi di Indonesia jelas menjadi bagian dari gelombang ekspor ini.
Jika tren berlanjut, konsumen Indonesia bisa menikmati lebih banyak pilihan EV dengan harga yang semakin terjangkau. Namun di sisi lain, persaingan dengan pabrikan Jepang dan Korea yang mulai merakit EV lokal akan semakin sengit.