TARAKAN — Kecepatan angin di wilayah Indonesia bagian utara dan selatan ekuator menjadi pemicu utama terbentuknya gelombang di perairan Kalimantan Utara. Kepala BMKG Tarakan, Muhammad Sulam Khilmi, menyebut pola angin yang cukup kuat dalam beberapa hari terakhir perlu diantisipasi oleh para pelaku pelayaran.
BMKG memberikan perhatian khusus pada nelayan yang menggunakan kapal kecil dan transportasi perairan tradisional. Kondisi gelombang 1,25 hingga 2,5 meter di Perairan Tanjung Selor masuk kategori sedang dan dinilai berbahaya jika tidak diantisipasi.
“Kami menyampaikan informasi kepada masyarakat dan pelaku pelayaran untuk memperhatikan tinggi gelombang dan saran keselamatan yang telah dikeluarkan BMKG,” ujar Khilmi, Ahad (24/5/2026).
BMKG merinci batas aman pelayaran berdasarkan jenis kapal. Untuk perahu nelayan, kondisi berisiko saat kecepatan angin mencapai 15 knot dan tinggi gelombang 1,25 meter. Sementara itu, kapal tongkang harus waspada jika angin bertiup 16 knot dengan gelombang hingga 1,5 meter.
“Nelayan dan operator kapal tongkang perlu memperhatikan batas aman pelayaran agar tidak membahayakan keselamatan,” terangnya.
Khusus untuk kapal ferry, kewaspadaan ekstra diperlukan ketika kecepatan angin menyentuh 21 knot dan tinggi gelombang 2,5 meter. Menurut BMKG, kondisi tersebut dapat mengganggu stabilitas pelayaran jika tidak diantisipasi sejak awal. “Operator kapal ferry harus memastikan kondisi cuaca dan gelombang aman sebelum berlayar,” tegas Khilmi.
BMKG mencatat, pola angin di utara ekuator Indonesia umumnya bertiup dari tenggara hingga barat daya dengan kecepatan 8 hingga 20 knot. Sementara di selatan ekuator, arah angin serupa tercatat dengan kecepatan 3 hingga 25 knot.
“Kecepatan dan arah angin sangat memengaruhi tinggi gelombang yang terjadi di laut,” jelas Khilmi. Meski potensi gelombang di atas 2,5 meter tidak terdeteksi untuk periode prakiraan ini, BMKG tetap meminta masyarakat pesisir untuk tidak lengah.
Peringatan dini ini berlaku mulai 23 hingga 26 Mei 2026. BMKG menekankan bahwa kondisi atmosfer dapat berubah sewaktu-waktu. “Informasi ini bersifat dinamis dan akan terus diperbarui sesuai perkembangan kondisi atmosfer,” ucap Khilmi.
Masyarakat pesisir, nelayan, dan operator transportasi laut diimbau rutin memantau informasi cuaca maritim resmi dari BMKG. Langkah ini dinilai krusial untuk meminimalisir risiko kecelakaan laut di perairan Kaltara. (*)