KALIMANTAN UTARA — Sepanjang tahun berjalan, rupiah sudah terdepresiasi 6,25% terhadap greenback. Tekanan jual terhadap mata uang Garuda tidak berdiri sendiri; mayoritas mata uang Asia juga kompak melemah. Won Korea Selatan menjadi yang paling tertekan dengan pelemahan 0,74%, disusul baht Thailand 0,18%, dan yen Jepang 0,08%.
Analis Doo Financial Lukman Leong menyebut ada sejumlah sentimen yang mempengaruhi pergerakan rupiah. Pertama, meredanya kekhawatiran pasar global setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan akan menunda rencana serangan terhadap Iran. Sentimen ini sempat mendorong penguatan aset berisiko, namun dampaknya terhadap rupiah terbatas.
"Pelaku pasar tetap mencermati kondisi domestik yang dinilai masih lemah," ujar Lukman dalam keterangannya, Selasa (19/5). Faktor kedua adalah ekspektasi kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia yang membuat investor cenderung wait and see.
Pasar sedang menanti hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuan. Langkah ini dinilai perlu untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan eksternal yang masih deras. Menurut Lukman, antisipasi terhadap kebijakan moneter yang lebih ketat membuat pelaku pasar berhati-hati dalam mengambil posisi.
Ia memperkirakan pergerakan rupiah hari ini masih berpotensi menguat meski terbatas, dengan rentang support dan resistance di level Rp 17.600 hingga Rp 17.700 per dolar AS. "Potensi penguatan ada, tapi sangat terbatas karena fundamental domestik belum memberikan katalis positif yang kuat," tambahnya.
Investor dan pelaku bisnis disarankan mencermati hasil RDG BI yang akan diumumkan dalam waktu dekat. Keputusan suku bunga akan menjadi sinyal penting bagi arah pergerakan rupiah ke depan, terutama dalam menghadapi tekanan dolar AS yang masih perkasa.