TARAKAN — Lapas Kelas IIA Tarakan menjadikan program pendidikan kesetaraan sebagai strategi utama pembinaan bagi warga binaan. Sebanyak 46 narapidana saat ini tercatat aktif mengikuti kelas Paket A (setara SD), Paket B (setara SMP), dan Paket C (setara SMA). Program ini digadang-gadang mampu menekan angka residivisme dengan membekali keterampilan akademik dasar bagi mantan narapidana saat kembali ke masyarakat.
Mengapa Pendidikan Jadi Kunci Kurangi Residivisme?
Kepala Lapas Kelas IIA Tarakan, Wahyu Prasetyo, menyebut bahwa pendidikan kesetaraan bukan sekadar formalitas. "Pendidikan ini menjadi bekal bagi warga binaan agar memiliki kompetensi yang setara dengan masyarakat umum," ujarnya. Ia menambahkan bahwa narapidana yang mengikuti program ini menunjukkan perubahan perilaku yang signifikan selama masa pembinaan.
Berdasarkan data internal lapas, tingkat residivisme di Tarakan masih menjadi perhatian serius. Dengan adanya program ini, pihak lapas berharap angka pengulangan tindak pidana bisa ditekan hingga setengahnya dalam dua tahun ke depan.
Paket A, B, dan C: Kelas Berjalan di Dalam Lapas
Proses belajar mengajar dilakukan di dalam area lapas dengan jadwal yang disesuaikan dengan kegiatan pembinaan lainnya. Tenaga pengajar didatangkan dari luar, termasuk dari Dinas Pendidikan Kota Tarakan dan relawan dari lembaga swadaya masyarakat. Setiap peserta mendapatkan modul dan bimbingan khusus sesuai level pendidikan masing-masing.
Salah satu warga binaan, Andi (bukan nama sebenarnya), mengaku terbantu dengan adanya kelas ini. "Saya putus sekolah sejak SMP. Sekarang bisa lanjut lagi, semoga setelah bebas nanti bisa cari kerja lebih mudah," katanya.
Fakta Singkat Program Pendidikan Kesetaraan di Lapas Tarakan
- 46 warga binaan terdaftar sebagai peserta aktif pendidikan kesetaraan
- 3 jenjang pendidikan tersedia: Paket A (SD), Paket B (SMP), Paket C (SMA)
- Tenaga pengajar dari Dinas Pendidikan Kota Tarakan dan relawan LSM
- Target penurunan residivisme hingga 50 persen dalam dua tahun
Dampak Jangka Panjang bagi Mantan Narapidana
Program ini tidak berhenti saat warga binaan selesai menjalani masa hukuman. Lapas Tarakan juga menjalin kerja sama dengan Balai Pemasyarakatan (Bapas) untuk memantau perkembangan mantan narapidana yang sudah mengikuti pendidikan. Mereka yang lulus Paket C bisa melanjutkan ke jenjang diploma atau vokasi melalui program beasiswa khusus.
Wahyu menegaskan, pendidikan adalah investasi jangka panjang. "Kami ingin mereka keluar dari sini bukan hanya bebas secara hukum, tapi juga siap secara mental dan akademik," tutupnya.