NUNUKAN — Rumah Adat Tidung di Desa Binusan, Kecamatan Nunukan, menjadi tuan rumah pembukaan IRAW Tidung Borneo Bersatu 2026. Ribuan warga memadati halaman rumah adat tersebut, bersanding dengan para pemangku adat, tokoh masyarakat, dan sponsor yang hadir sejak sore.
Hadir dalam acara itu perwakilan Menteri Pariwisata RI, perwakilan Gubernur Kalimantan Utara, perwakilan Bupati Nunukan, serta Kepala Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga serta Pariwisata Kabupaten Nunukan. Rumpun keluarga besar Tidung dari Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Filipina turut memenuhi undangan.
Dalam sambutan pembukaannya, Rudihartono menyampaikan salam lintas agama dan rasa syukur atas berkumpulnya keluarga besar Tidung di rumah adat sendiri.
"Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa. Atas kasih, berkat, dan penyertaan-Nya, kita dapat berkumpul bersama pada malam yang penuh kebahagiaan ini di Rumah Adat Tidung Desa Binusan," ujar Rudihartono, Rabu (8/10/2026) malam.
Rudihartono menegaskan bahwa pembukaan IRAW di Rumah Adat Tidung Binusan memiliki makna simbolis yang kuat bagi masyarakat Tidung.
"Malam ini bukan sekadar malam pembukaan sebuah kegiatan. Malam ini adalah malam di mana kita kembali dipertemukan sebagai satu keluarga di rumah kita sendiri. Kita datang dari berbagai tempat, dipisahkan oleh batas wilayah dan batas negara, namun tidak pernah terpisahkan oleh darah, adat, budaya, sejarah, dan ikatan persaudaraan. Inilah makna besar dari IRAW Tidung Borneo Bersatu," tegasnya.
Kades Binusan mengingatkan pentingnya menjaga jati diri di tengah arus modernisasi. Ia menyoroti risiko generasi mendatang yang hanya mengenal budaya Tidung dari cerita buku.
"Jangan sampai anak cucu kita kelak mengenal budaya Tidung hanya melalui cerita dari buku. Jangan sampai mereka hanya mengetahui nama leluhur tanpa memahami nilai-nilai yang diwariskan. Dan jangan sampai kemajuan zaman membuat kita lupa dari mana kita berasal," katanya.
Menurutnya, Rumah Adat Tidung Binusan menjadi bukti bahwa adat dan budaya masih hidup dan harus terus diwariskan.
Dengan semangat persatuan, Rudihartono mengajak seluruh hadirin untuk merayakan persamaan ketimbang membicarakan perbedaan.
"Kita berkumpul bukan untuk membicarakan perbedaan. Kita berkumpul untuk menemukan persamaan. Empat negara boleh memiliki batas wilayah masing-masing, tetapi persaudaraan tidak mengenal batas negara. Laut boleh memisahkan daratan, tetapi tidak akan mampu memisahkan hati keluarga besar Tidung," serunya.
Ia menambahkan, IRAW bukan hanya bersatu dalam nama, tapi bersatu dalam hati dan saling hadir saat saudara membutuhkan.
Kepada generasi muda Tidung, Rudihartono berpesan agar tetap bangga dengan identitas budaya.
"Jadilah generasi yang mampu berdiri di tengah kemajuan zaman tanpa kehilangan identitas. Kita boleh modern, tetapi jangan kehilangan akar. Kita boleh maju, tetapi jangan melupakan leluhur. Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya," pesannya.
Acara pembukaan di Rumah Adat Tidung Desa Binusan ditutup dengan pekikan persaudaraan yang menggema di halaman rumah adat.
"Tidung bersatu, Borneo bersatu. Berbeda tempat, tetap satu darah. Berbeda negara, tetap satu saudara. Satu adat, satu budaya, satu persaudaraan untuk selamanya. Impong de lunas insuai!"
Rangkaian IRAW Tidung Borneo Bersatu 2026 di Rumah Adat Tidung Binusan akan berlangsung selama beberapa hari. Tarian adat, ritual adat, pameran budaya, karnaval, dan silaturahmi akbar keluarga besar Tidung dari Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Filipina menjadi bagian dari agenda tersebut.