TARAKAN — Kenaikan indeks harga konsumen Kalimantan Utara bulan lalu dipicu melonjaknya harga cabai rawit. Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kaltara, Agus Taufik, menyebut tekanan itu muncul setelah pasokan dari Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan berkurang.
Kekeringan dan kemarau panjang di kedua daerah pemasok utama menekan produktivitas tanaman cabai. Dampaknya, harga cabai rawit di pasar Kaltara melonjak dan menjadi komoditas paling dominan pendorong inflasi.
Selain cabai rawit dengan andil 0,30 persen, sejumlah komoditas lain turut menyumbang inflasi bulanan:
Lonjakan harga telur dan daging ayam ras dipicu kenaikan harga di tingkat distributor. Pasokan dari luar daerah, terutama Sulawesi dan Berau, juga tersendat.
"Inflasi Kaltara di September 2026 masih terjaga dalam sasaran target, meski secara bulanan ada peningkatan," ujar Agus Taufik dalam keterangan tertulis KPwBI Kaltara, Rabu (7/10/2026).
Di tengah tekanan pangan, kelompok transportasi justru menahan laju inflasi. Tarif angkutan udara memberi andil minus 0,03 persen setelah permintaan tiket pesawat melemah akibat minimnya momentum libur panjang pada September.
Penahan lain datang dari komoditas hortikultura. Sawi hijau dan bayam masing-masing menyumbang andil minus 0,02 persen, sedangkan kacang panjang minus 0,01 persen.
Penurunan harga sayuran terjadi karena petani lokal Kaltara mulai memasuki masa panen. Pasokan ke pasar bertambah, harga pun terkoreksi.
Agus menilai inflasi Kaltara tetap terjaga meski sejumlah risiko membayangi. Anomali cuaca yang memicu kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan menjadi salah satu ancaman pasokan komoditas.
Lonjakan permintaan dari Proyek Strategis Nasional di Kaltara turut berpotensi mendorong inflasi. Penyesuaian tarif energi dan transportasi menambah tekanan yang perlu diwaspadai.
Tim Pengendalian Inflasi Daerah se-Kaltara bersinergi lewat kerangka 4K: keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif. Sepanjang 2026, TPID menggelar 225 kegiatan pasar murah untuk komoditas strategis.
Penerapan Good Agriculture Practices melalui irigasi tetes untuk cabai merah juga dijalankan. Langkah ini disertai penyediaan sarana pendukung produktivitas bagi petani.
Penguatan komunikasi dilakukan melalui high level meeting TPID, diversifikasi produk olahan pangan, dan inspeksi mendadak ke pasar. Kantor Perwakilan BI Kaltara turut mendorong program Mini Distribution Center–Kios Tarakan Hibot untuk stabilisasi harga pangan.
Kerja TPID Kota Tarakan berbuah penghargaan TPID Award 2026 sebagai TPID Kabupaten/Kota Berkinerja Terbaik Wilayah Kalimantan. Penghargaan itu diberikan atas konsistensi menjaga stabilitas harga dan memperkuat ketahanan pangan lewat program BELIMPUN TAKA TAGAS.