TARAKAN — Kepala BPS Kota Tarakan Umar Riyadi menyebut pergerakan harga September berbeda dari bulan-bulan sebelumnya. Kelompok transportasi yang biasanya menekan inflasi justru menahan laju kenaikan harga lewat deflasi angkutan udara.
Penurunan tarif angkutan udara memberi andil deflasi 0,0477 persen. Sejumlah komoditas pangan juga turun harga, mulai dari sawi hijau, bayam, kacang panjang, hingga ikan kembung.
Selain angkutan udara, sawi hijau mencatat andil deflasi 0,0477 persen, bayam 0,0351 persen, dan kacang panjang 0,0155 persen. Emas perhiasan turun dengan andil 0,0144 persen.
Ikan kembung menyumbang deflasi 0,0072 persen, disusul bawang putih 0,0037 persen, besi beton 0,0017 persen, kangkung 0,0017 persen, dan kunyit 0,0011 persen.
"Kalau kita lihat pergerakan September, transportasi justru memberikan pengaruh yang menahan inflasi. Kelompok ini mengalami deflasi 0,05 persen dan yang paling besar memberikan pengaruh adalah angkutan udara, dengan andil deflasi 0,0477 persen," ujar Umar Riyadi.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau tetap menjadi penyumbang inflasi terbesar dengan andil 0,28 persen. Cabai rawit memimpin dengan andil 0,2475 persen, jauh di atas komoditas lain.
Telur ayam ras menyusul dengan andil 0,0509 persen, jagung manis 0,0221 persen, cabai merah 0,0145 persen, dan soto 0,0125 persen. Beras memberi andil 0,0092 persen, tomat 0,008 persen, laptop/notebook 0,0077 persen, bawang merah 0,0066 persen, dan obat gosok 0,0056 persen.
"Untuk kelompok makanan, minuman dan tembakau memang tekanannya masih cukup kuat. Cabai rawit menjadi penyumbang terbesar, kemudian telur ayam ras, jagung manis dan cabai merah," jelas Umar.
Inflasi tahun kalender Tarakan hingga September 2026 tercatat 1,79 persen, sedikit di bawah Kaltara 1,82 persen dan nasional 2,17 persen. Sementara inflasi tahunan Tarakan 2,82 persen berada di atas Kaltara 2,56 persen, dengan selisih 0,26 poin persentase.
Terhadap inflasi nasional yang mencapai 3,28 persen, posisi Tarakan masih lebih rendah 0,46 poin persentase. Tiga kelompok pengeluaran lain turut menyumbang inflasi bulanan masing-masing 0,01 persen, yakni kesehatan, informasi-komunikasi dan jasa keuangan, serta penyediaan makanan dan minuman/restoran.
"Kalau secara tahunan, inflasi Tarakan September berada di 2,82 persen. Angka ini lebih tinggi dibandingkan Kaltara yang 2,56 persen, tetapi masih di bawah nasional yang mencapai 3,28 persen," ungkap Umar.
BPS Kota Tarakan memperkirakan inflasi sepanjang 2026 berada di angka 2,82 persen jika pola harga Triwulan IV 2026 mengikuti pola Triwulan IV 2025. Perkiraan itu bersifat asumsi dan masih bergantung pada perkembangan harga Oktober hingga Desember.
"Kalau pola pada Triwulan IV 2026 mengikuti pola yang terjadi pada Triwulan IV tahun lalu, inflasi Tarakan sepanjang 2026 diperkirakan berada di angka 2,82 persen. Tetapi ini tentu berdasarkan asumsi, perkembangan harga pada tiga bulan terakhir tetap menjadi faktor penentunya," pungkas Umar.