TANJUNG SELOR — Kepala BPS Kaltara Mustaqim menyebut kelompok transportasi menyumbang andil inflasi tahunan 5,86 persen, sementara perawatan pribadi dan jasa lainnya 6,87 persen. Kedua kelompok itu tercatat paling tinggi dibandingkan sepuluh kelompok pengeluaran lain yang juga mengalami kenaikan indeks.
Kelompok penyediaan makanan dan minuman menyusul dengan andil 3,95 persen, diikuti perlengkapan rumah tangga 2,45 persen dan kesehatan 2,14 persen. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menyumbang 1,84 persen.
Mustaqim merinci sejumlah komoditas yang dominan menyumbang inflasi tahunan pada September 2026. "Komoditas yang dominan menyumbang inflasi y-on-y pada September 2026, di antaranya emas perhiasan, tarif angkutan udara, cabai rawit, nasi dengan lauk, beras, bensin, air kemasan, sepeda motor dan minyak goreng," ujarnya.
Tarif angkutan udara dan harga emas perhiasan muncul sebagai dua pos dengan bobot besar. Keduanya mewakili kelompok transportasi serta perawatan pribadi yang andilnya paling tinggi dalam struktur inflasi Kaltara bulan lalu.
Di sisi lain, beberapa komoditas tercatat menyumbang deflasi atau menekan laju kenaikan harga. Mustaqim menyebut tomat, bawang merah, bayam, telur ayam ras, ikan bandeng, terong, udang basah, pembersih lantai, dan baju kaos tanpa kerah.
Kelompok pangan bergejolak seperti cabai rawit, beras, dan minyak goreng tetap memberi tekanan meski sejumlah bahan pangan lain harganya turun. Kombinasi keduanya membuat inflasi tahunan Kaltara bertahan di level 2,56 persen.
BPS Kaltara mencatat kenaikan indeks pada hampir seluruh kelompok pengeluaran selama setahun terakhir. Berikut rincian andil inflasi tahunan per kelompok:
Dari sisi sumbangan terhadap inflasi umum, kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberi andil 0,59 persen. Kelompok transportasi menyumbang 0,69 persen, sedangkan informasi, komunikasi, dan jasa keuangan 0,04 persen.
Angka-angka itu menggambarkan bahwa tekanan harga di Kaltara tidak datang dari satu sektor saja. Kelompok transportasi dan perawatan pribadi menjadi dua penopang utama, sementara pangan dan komunikasi memberi dorongan lebih kecil.
Inflasi tahunan 2,56 persen berarti harga barang dan jasa secara umum naik dibandingkan September 2025. Kenaikan tarif angkutan udara dan harga emas perhiasan berdampak langsung pada pengeluaran rumah tangga yang menggunakan jasa tersebut.
BPS Kaltara belum merinci proyeksi inflasi bulan berikutnya. Data September 2026 ini menjadi acuan terbaru untuk melihat arah pergerakan harga di provinsi paling utara Kalimantan tersebut.