KALIMANTAN UTARA — Pertamina Hulu Rokan (PHR) mengungkap strategi menjaga produksi migas di Blok Rokan yang lapangannya sudah berumur tua, dengan mengandalkan optimalisasi sumur eksisting, eksplorasi, dan teknologi. Blok Rokan menyumbang hampir sepertiga produksi minyak nasional, sehingga penurunan produksinya berdampak langsung pada ketahanan energi Indonesia.
Paragraf pembuka: Corporate Secretary PHR Eviyanti Rofraida menyatakan prioritas utama perusahaan adalah menahan laju penurunan produksi dari sumur-sumur yang sudah beroperasi. Strategi itu diperkuat lewat pencarian sumber produksi baru serta penerapan teknologi untuk meningkatkan perolehan migas dari lapangan yang ada.
Evi menjelaskan, menjaga baseline production menjadi kunci agar penurunan produksi tidak terjadi terlalu tajam. "Utamanya adalah menjaga baseline, produksi (migas) yang sudah ada kalaupun menurun, tidak jauh. (Namun lebih bagus) jika penurunannya hanya sedikit," kata Evi dalam siaran pers, dikutip Jumat (2/10).
Selain merawat kinerja sumur tua, PHR mengevaluasi potensi baru berdasarkan data yang tersedia. Perusahaan juga terus melakukan eksplorasi untuk menemukan sumber daya yang bisa dikembangkan menjadi sumber produksi baru.
Pemanfaatan teknologi ditempatkan sebagai bagian penting dari strategi PHR. Berbagai pendekatan teknologi diterapkan untuk meningkatkan produktivitas lapangan sekaligus mengoptimalkan cadangan yang masih tersedia.
Di Jambi, proyek Puspa Asri menjadi salah satu yang mendapat perhatian Pertamina. Proyek itu diproyeksikan memberi tambahan produksi yang punya arti strategis bagi Pertamina EP Jambi.
Pengembangan tersebut menunjukkan ketahanan energi tidak hanya bergantung pada penemuan lapangan baru. Kemampuan industri mengubah potensi sumber daya menjadi produksi secara efektif lewat teknologi dan inovasi juga menentukan.
Keberlanjutan produksi migas, menurut Evi, memerlukan dukungan lintas pemangku kepentingan, termasuk pemerintah daerah dan perguruan tinggi. "Dukungan tersebut diperlukan agar kegiatan operasi, eksplorasi, hingga pengembangan wilayah baru dapat berjalan secara aman dan berkelanjutan," ujarnya.
Anggota Pemangku Kepentingan Dewan Energi Nasional (DEN) Muhammad Kholid Syeirazi menilai langkah paling mendasar untuk memperkuat ketahanan energi adalah meningkatkan produksi, baik dari sumber fosil maupun energi terbarukan. Peningkatan produksi perlu berjalan beriringan dengan diversifikasi sumber energi.
Pengembangan biodiesel disebut sebagai salah satu instrumen untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor solar. Pemerintah juga sedang mendorong pengembangan etanol sebagai alternatif kebutuhan bensin.
Kholid menambahkan, penguatan ketahanan energi harus mempertimbangkan keseimbangan antara kebutuhan peningkatan produksi, keberlanjutan lingkungan, dan aspek ekonomi masyarakat. Transisi serta diversifikasi energi tidak hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan energi, tetapi juga tetap memperhatikan keberlanjutan.
DEN juga mendorong percepatan pembentukan cadangan penyangga energi, yang berbeda dengan cadangan operasional yang selama ini disiapkan badan usaha untuk kegiatan sehari-hari. "Cadangan penyangga energi itu kalau bisa sampai 30 hari setara impor. Itu diberi waktu sampai 2035. Mudah-mudahan kita mengejar. Tetapi dalam waktu dekat, paling tidak sebelum bisa 30 hari, lima hari dulu atau 10 hari dulu. Secara bertahap kita bisa sampai 30 hari, idealnya 60 hari, lebih-lebih bisa 90 hari," ujarnya.
Penutup: Bagi PHR, menjaga Blok Rokan tetap produktif bukan sekadar soal target korporasi. Kontribusi blok ini yang mendekati sepertiga produksi minyak nasional membuat setiap barel yang bisa dipertahankan berarti bagi pasokan energi dalam negeri.