BNBR: Laba Operasi Naik 283%, Tapi Rugi Bersih Rp216,9 Miliar di Semester I 2026

Penulis: Jamal Nasution  •  Selasa, 15 September 2026 | 08:35:31 WIB
Pekerja beraktivitas di kawasan Jalan Tol Cimanggis–Cibitung, Kalimantan Utara.

KALIMANTAN UTARA — Pendapatan BNBR pada semester I 2026 melonjak 45,8% YoY menjadi Rp2,59 triliun, dengan gross margin naik dari 22,0% menjadi 25,1%. Operating margin juga membaik dari 4,4% menjadi 11,6%, menandakan bisnis inti perseroan mulai bergerak ke arah yang benar.

Namun, beban bunga dan keuangan yang mencapai lebih dari Rp500 miliar dalam enam bulan pertama menelan seluruh manfaat perbaikan tersebut. Alhasil, bottom line BNBR masih merah meski top line dan margin operasional menunjukkan perbaikan signifikan.

CCT Jadi Mesin Pendapatan Berulang

Akuisisi Jalan Tol Cimanggis–Cibitung (CCT) mengubah profil bisnis BNBR dengan menghadirkan pendapatan berulang dari sektor infrastruktur. Pada semester I 2026, rata-rata traffic CCT mencapai sekitar 43.708 kendaraan per hari, atau 3,25% di atas target RKAP.

Pendapatan dari jalan tol tersebut sekitar Rp2,5 miliar per hari, juga melampaui target internal. Karena bisnis tol memiliki struktur biaya tetap yang besar, kenaikan traffic berpotensi memberikan operating leverage yang signifikan ke depan.

Rights Issue Rp4,77 Triliun dan Agenda Pelunasan Utang

BNBR melakukan rights issue dengan potensi dana sekitar Rp4,77 triliun. Sebanyak Rp4,36 triliun dialokasikan untuk pembayaran utang, dengan rincian Rp3,66 triliun untuk pinjaman Hartman International dan Rp700 miliar untuk Bank Nobu.

Jika utang berbunga tinggi benar-benar turun, finance cost BNBR dapat berkurang secara material. Karena itu, kinerja kuartal III dan IV 2026 akan jauh lebih penting dibanding semester I 2026. Investor perlu melihat apakah penurunan utang benar-benar diikuti oleh penurunan beban bunga.

Laba 2025 Perlu Dibaca Hati-hati

BNBR mencatat laba bersih sekitar Rp503 miliar pada 2025. Namun laba tersebut tidak sepenuhnya berasal dari operasi normal. Terdapat keuntungan besar terkait transaksi dan akuisisi CCT yang secara total mencapai lebih dari Rp700 miliar.

Artinya, laba 2025 kurang tepat digunakan sebagai dasar sederhana untuk menilai BNBR memiliki PER murah. Untuk menilai turnaround, laba 2026–2027 setelah struktur utang berubah justru jauh lebih relevan.

Arus Kas Masih Negatif, Konfirmasi Belum Datang

Walaupun operating profit membaik, arus kas operasi semester I 2026 masih negatif sekitar Rp62 miliar. Piutang usaha pihak ketiga juga naik dari Rp636 miliar menjadi sekitar Rp1,14 triliun, sementara inventory meningkat menjadi Rp903 miliar.

Ini menunjukkan pertumbuhan pendapatan belum sepenuhnya berubah menjadi kas. Konfirmasi turnaround bukan hanya net profit positif, tetapi juga operating cash flow yang konsisten positif.

Valuasi: Pasar Sudah Hargai Skenario Bull Case

Setelah rights issue, saham beredar BNBR meningkat menjadi sekitar 263,34 miliar saham. Dengan harga sekitar Rp93, kapitalisasi pasarnya mencapai sekitar Rp24,5 triliun. Secara pro-forma sederhana, book value setelah rights issue berada di kisaran Rp35 per saham, yang berarti BNBR diperdagangkan sekitar 2,6x PBV.

Valuasi tersebut sudah cukup tinggi untuk perusahaan yang normalized ROE dan free cash flow-nya masih belum terbukti. Masalah BNBR bukan lagi apakah fundamental membaik, melainkan seberapa besar perbaikan tersebut sudah dihargai oleh pasar.

Lima Faktor Penggerak Laba ke Depan

Setidaknya ada lima faktor yang perlu diperhatikan investor dalam 6–12 bulan ke depan:

  • Penurunan beban bunga setelah rights issue
  • Pertumbuhan traffic dan tarif CCT
  • Peningkatan order dan utilisasi bisnis pipa serta konstruksi
  • Pemulihan bisnis komponen otomotif dan kendaraan listrik
  • Proyek baru seperti PSEL, yang untuk saat ini masih lebih tepat dianggap sebagai optional upside karena nilai investasi dan kontribusi labanya belum final

Dari semuanya, faktor penurunan beban bunga masih menjadi yang paling penting dalam 6–12 bulan ke depan.

Teknikal: Rebound Mungkin, Tapi Struktur Belum Konstruktif

Secara harian, BNBR masih berada dalam struktur sideways cenderung bearish setelah mengalami koreksi besar dari area puncaknya. Momentum sudah cukup oversold, sehingga technical rebound tetap mungkin terjadi.

Teknikal mulai lebih konstruktif jika harga mampu menembus Rp105–110 dengan volume meningkat. Tanpa breakout tersebut, tekanan jual masih berpotensi mendominasi.

Investasi mengandung risiko.

Reporter: Jamal Nasution
Sumber: pintarsaham.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top