KALIMANTAN UTARA — Barcelona mengawali musim dengan performa nyaris tanpa cela di kompetisi domestik. Pasukan Hansi Flick menyapu bersih empat laga perdana La Liga, termasuk kemenangan telak 5-0 atas Valencia pada akhir pekan lalu. Total 17 gol sudah mereka cetak dan tim asal Katalonia itu nyaman memuncaki klasemen sementara.
Namun, ukuran sesungguhnya bagi Barcelona musim ini tetap sama: Liga Champions. Terakhir kali trofi bergengsi itu mampir ke Camp Nou pada 2015. Musim lalu, ambisi mereka kandas di perempat final setelah disingkirkan Atletico Madrid, sementara pada 2024/2025 langkah Blaugrana terhenti di semifinal. Puasa gelar pun terus berlanjut.
Feyenoord bukan lawan yang bisa diremehkan. Tim asuhan Giovanni van Bronckhorst belum tersentuh kekalahan di semua kompetisi sejak awal Maret. Dari lima pertandingan awal musim ini, mereka mengoleksi tiga kemenangan dan dua hasil imbang. Kemenangan 3-1 atas Nijmegen menjadi modal terakhir mereka sebelum terbang ke Spanyol.
De Kuip memang pernah menjadi saksi kejayaan Feyenoord di kompetisi ini pada 1970. Namun, konsistensi di Eropa belakangan ini menjadi pekerjaan rumah. Musim lalu mereka gagal melewati league phase Liga Europa dan tersingkir lebih dini di kualifikasi Liga Champions. Adapun penampilan terakhir mereka di league phase terjadi pada 2024/2025, yang berakhir di babak 16 besar setelah kalah agregat 1-4 dari Inter Milan.
Secara historis, Barcelona unggul jauh atas Feyenoord. Dua pertemuan resmi terakhir terjadi pada 1974, di mana Blaugrana menang 3-0 di kandang dan bermain imbang 0-0 di Rotterdam.
Tren lima laga terakhir juga berpihak pada tuan rumah. Barcelona selalu menang, dengan dua kemenangan berbalas lima gol. Sementara Feyenoord, meski tak terkalahkan, dua kali bermain imbang. Kedalaman skuad dan kualitas individu seperti Lamine Yamal dan Raphinha menjadi faktor pembeda yang sulit dibendung lini belakang Feyenoord.
Hansi Flick diprediksi tetap memakai formasi 4-2-3-1. Pedri dan Bernal beroperasi sebagai poros ganda, dengan Gordon, Olmo, dan Yamal mendukung Raphinha di lini depan. Di sisi lain, Van Bronckhorst kemungkinan menurunkan skema 4-3-3 dengan trio Diarra, Ferri, dan Valente sebagai ujung tombak.
Kunci laga ada pada transisi cepat Barcelona. Tekanan tinggi yang mereka terapkan di La Liga akan diuji oleh Feyenoord yang nyaman menguasai bola. Jika lini tengah Feyenoord mampu memutus suplai ke Yamal dan Olmo, peluang mencuri poin dari Camp Nou terbuka lebar.