KALIMANTAN UTARA — Counterpoint Research mencatat pengiriman smartwatch global turun 4 persen year-on-year (YoY) pada kuartal II 2026. Ini merupakan penurunan pertama setelah setahun penuh bertumbuh.
Koreksi ini dipicu lemahnya penjualan di segmen smartwatch dasar. Konsumen menunda membeli perangkat murah karena kapabilitas pemantauannya terbatas. Sementara itu, pengguna premium juga menahan diri, menunggu peluncuran produk anyar yang memperpanjang siklus penggantian perangkat.
Huawei memimpin pangsa pasar global dengan 21,8 persen pada kuartal II 2026, naik 1 persen dibanding periode sama tahun lalu. Apple menempel di posisi kedua dengan pangsa 20,1 persen, sekaligus mencatat pertumbuhan 14 persen YoY—tertinggi di antara seluruh produsen.
Principal Analyst Counterpoint, Anshika Jain, menyebut pertumbuhan Apple merata di semua kawasan. "Apple mencatat pertumbuhan di semua wilayah, didorong oleh tingginya adopsi lini produk terbarunya yang diperbarui pada akhir 2025," ujarnya dalam laporan yang dirilis Senin (7/9).
Peringkat berikutnya ditempati Imoo dengan pangsa 7,8 persen, turun 3 persen YoY. Xiaomi menyusul di posisi keempat dengan 6,1 persen setelah merosot tajam 38 persen. Garmin justru melesat 11 persen ke angka 5,6 persen.
Merek lain secara kolektif menguasai 38,5 persen pangsa pasar, menyusut 8 persen YoY. Penurunan drastis Xiaomi menarik perhatian lantaran brand asal China itu selama ini agresif di segmen entry-level. Adapun pertumbuhan Garmin mengindikasikan pergeseran minat pengguna ke perangkat dengan fitur olahraga dan navigasi yang lebih mumpuni.
Tren ini menjadi sinyal bahwa smartwatch premium dengan kemampuan monitoring kesehatan yang lebih lengkap semakin dilirik. Konsumen Indonesia yang biasanya membidik rentang harga Rp 1-3 juta kini punya lebih banyak opsi, terutama dari Huawei dan Apple yang sama-sama memperkuat lini produknya.
Namun, siklus penggantian yang memanjang menuntut calon pembeli lebih selektif. Pilih perangkat dengan pembaruan software jangka panjang dan sensor yang benar-benar dibutuhkan, bukan sekadar gimmick. Kesabaran bisa menjadi strategi: Counterpoint memperkirakan pasar baru pulih saat gelombang produk anyar dari vendor besar meluncur pada paruh kedua 2026, membuka peluang harga lebih kompetitif.