TARAKAN — Tekanan harga di Kalimantan Utara pada Agustus 2026 rupanya tidak hanya bersumber dari komoditas pangan. Data terbaru Bank Indonesia menunjukkan, ongkos perjalanan laut justru menjadi penyumbang inflasi bulanan terbesar di provinsi tersebut, mengalahkan gejolak harga daging ayam dan sayur-mayur.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Utara, Agus Taufik, mengungkapkan inflasi bulanan Kaltara tercatat 0,23 persen. Secara tahunan, laju inflasi berada di level 2,17 persen dan tahun kalender mencapai 1,44 persen; semuanya masih dalam bando kendali yang aman.
Komponen angkutan laut menyumbang andil yang cukup signifikan, yakni 0,12 poin terhadap inflasi bulanan. Jumlah ini hampir dua setengah kali lipat dibandingkan kontribusi kenaikan harga daging ayam ras yang hanya sebesar 0,05 poin.
Sementara itu, harga sawi dan kangkung masing-masing menyumbang tekanan inflasi sebesar 0,04 dan 0,03 poin. Besarnya andil transportasi laut ini menunjukkan struktur ekonomi Kaltara yang sangat bergantung pada konektivitas antarpulau dan antarkabupaten.
“Memang karakteristik Kaltara ini berbeda dengan daerah lain. Kita punya wilayah yang cukup luas dan konektivitas antardaerahnya banyak menggunakan transportasi laut,” ujar Agus dalam keterangannya, Selasa (1/9/2026).
Meski sempat mendapat tekanan dari sektor transportasi laut, pergerakan harga di Kaltara pada bulan lalu tidak sepenuhnya naik. Sejumlah komoditas penting justru berperan sebagai penahan laju inflasi, di antaranya tomat, bawang merah, dan bensin.
Harga beras yang sempat menjadi momok beberapa bulan sebelumnya juga terpantau mengalami penurunan dan turut meredam gejolak. Agus menilai dinamika ini merupakan gambaran inflasi yang sehat dan dinamis karena tekanan di satu sektor bisa terkompensasi oleh penurunan di sektor lain.
“Setiap bulan itu memang bisa berbeda. Ada komoditas yang bulan ini memberikan tekanan, bulan berikutnya bisa saja berubah,” jelasnya.
Laju inflasi tahunan di Tarakan pada Agustus 2026 tercatat lebih tinggi dibandingkan rata-rata provinsi, yaitu menyentuh angka 2,91 persen. Kondisi ini tidak lepas dari status Tarakan sebagai kota yang hampir seluruh kebutuhan pokoknya didatangkan dari luar wilayah.
Menurut Agus, tingginya angka inflasi di Tarakan berkaitan erat dengan biaya distribusi. Ketika tarif transportasi laut berubah, maka otomatis harga barang yang masuk ke Tarakan ikut terpengaruh.
“Tarakan memang banyak menerima pasokan dari luar. Kondisi seperti ini membuat distribusi menjadi penting,” kata Agus.
Menghadapi situasi ini, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kaltara bersama Bank Indonesia tidak lagi hanya fokus memantau harga kebutuhan pokok di pasar. Faktor-faktor pendukung seperti biaya transportasi dan kelancaran jalur distribusi kini menjadi perhatian serius dalam rapat koordinasi pengendalian harga.
Langkah ini diambil untuk memastikan setiap kenaikan harga yang terjadi diketahui sumber penyebabnya secara tepat. Baik itu karena terganggunya pasokan, melonjaknya permintaan, atau membengkaknya biaya pengiriman—sehingga intervensi yang dilakukan tidak keliru sasaran.
“Harus dilihat sumbernya. Apakah karena pasokan, distribusi, permintaan, atau faktor lainnya. Dari situ kita bisa menentukan apa yang perlu dilakukan,” pungkas Agus. (rs)