TARAKAN — Eskalasi kabut asap di Tarakan terjadi sangat cepat. Pada pukul 13.00 WITA, jarak pandang masih tercatat 1.000 meter, namun hanya 90 menit berselang, visibilitas turun drastis menjadi 500 meter.
Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Tarakan, M. Sulam Khilmi, menyebut penurunan ini terjadi signifikan sejak siang hari. Kondisi tersebut merupakan akumulasi asap kiriman dari titik panas di sejumlah provinsi tetangga di Pulau Kalimantan.
Penurunan jarak pandang ini tak hanya mengganggu aktivitas darat, tetapi langsung melumpuhkan operasional Bandara Juwata. Dua penerbangan komersial terpaksa mendarat di Balikpapan lantaran landasan tak lagi memenuhi syarat keselamatan.
Sebelumnya, pada Minggu (30/8/2026), jarak pandang di bandara sempat menyusut hingga 1.000 meter pada pukul 14.00 WITA sebelum akhirnya membaik di malam hari. Namun pada Senin, situasi justru memburuk di jam yang sama.
Fahruddin Rahmat, Kepala Bidang Teknik dan Operasi Bandara Juwata, menjelaskan bahwa sebagian besar hotspot pemicu kabut berasal dari Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur. Angin bertekanan kuat yang bergerak dari selatan ke utara menjadi biang keladi terkumpulnya asap di langit Tarakan.
Sementara itu, laporan BMKG menunjukkan sebaran titik api di Kalimantan Utara relatif terbatas. Hanya satu titik terpantau, yakni di kawasan Tanjung Palas Timur, Kabupaten Bulungan. Meski begitu, dampak asap kiriman tetap dominan menutupi wilayah Kota Tarakan.
Kondisi karhutla sebenarnya sudah terpantau sejak 10 Agustus 2026. Namun, jarak pandang saat itu masih stabil di angka 4 hingga 5 kilometer. Pemburukan drastis baru terjadi dalam dua hari terakhir dan memuncak pada Senin sore ini.
Kepala Bidang Teknik dan Operasi Bandara Juwata menegaskan bahwa penanganan karhutla kini menjadi perhatian lintas kementerian. Pemerintah terus melakukan pemadaman di titik-titik api agar sebaran asap tidak berlarut-larut.
Di tengah ketidakpastian durasi hilangnya kabut asap, pengelola Bandara Juwata mengimbau masyarakat yang terpaksa beraktivitas di luar rumah untuk melindungi diri. Penggunaan masker untuk saluran pernapasan dan kacamata untuk mencegah iritasi mata sangat disarankan.
"Gunakanlah masker untuk melindungi saluran pernapasan dan gunakan kacamata agar terhindar dari iritasi mata akibat paparan asap karhutla ini," pungkas Fahruddin Rahmat.