KALIMANTAN UTARA — Pacitan selama ini dikenal berkat Pantai Klayar dan goa-goa karstnya. Tapi ada satu pertunjukan yang setahun sekali mengubah jalanan ibu kota kabupaten di pesisir selatan Jawa Timur ini menjadi panggung raksasa: Festival Ronthek.
Setiap malam selama bulan Ramadan, lebih dari seribu warga dari berbagai kecamatan berbaris membawa kentongan bambu berlubang—yang disebut ronthek—lalu memukulnya kompak sambil berjalan berkilometer. Bunyinya bukan sekadar derap ritme; ia berpadu dengan saksofon, drum bas, hingga menjadi orkestrasi yang menggema di antara deretan lampu dan kostum panggung.
Nama Ronthek adalah akronim lokal dari ronda thetek, instrumen bambu panjang yang dipukul memakai bambu pula. Pada mulanya, alat ini cuma dipakai warga untuk membangunkan sahur. Kini, bentuknya berevolusi menjadi seni pertunjukan massal.
Transformasi besar terjadi pada 2011, saat Bupati Indartato mulai melembagakan tradisi ini menjadi kompetisi terstruktur. Tahun pertama festival, partisipasi 2.818 seniman memecahkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). Sejak 2022, festival di bawah Bupati Indrata Nur Bayuaji ini masuk daftar resmi Karisma Event Nusantara, program Kementerian Pariwisata yang mempromosikan event budaya daerah ke tingkat nasional.
Rute pawai bukan main-main. Rombongan dari Kelurahan Pacitan dan Desa Sumberharjo bertemu di Jembatan Gerdon, lalu bergerak ke selatan bergabung dengan kelompok Pucangsewu. Simpul berikutnya di Taman Bugar, tempat rombongan Bangunsari dan Sedeng melebur, sebelum seluruh peserta bermuara di Alun-Alun Pacitan.
Total jarak tempuh bisa mencapai beberapa kilometer, dan durasi pertunjukan berlangsung hingga larut malam. Bagi penonton, posisi terbaik ada di sekitar Alun-Alun Pacitan, titik akhir tempat seluruh kecamatan menampilkan atraksi terbaiknya sekaligus lokasi penjurian.
Sejak 2014, format festival resmi diubah menjadi ajang penyaji dan penata musik terbaik. Dominasi sempat diraih Kecamatan Pringkuku lewat grup "Raung Bambu" yang menjadi juara umum berturut-turut pada 2018 dan 2019 dengan karya teatrikal seperti Sri Boyong dan Durbala Singkir.
Perjalanan festival tidak selalu mulus. Pada 2020 dan 2021, acara terhenti akibat pandemi. Namun, yang lebih menarik justru dinamika sosialnya. Sebelum difestivalkan, euforia antarkelompok pemuda dari desa berbeda kadang memicu gesekan kecil saat berpapasan di jalanan gelap. Festivalisasi justru menjadi wadah penyaluran energi tersebut—mengubah potensi konflik menjadi persaingan seni yang sehat dan memperkuat silaturahmi antarkecamatan.
Festival Ronthek bukan sekadar atraksi wisata; ia membuktikan bahwa tradisi akar rumput bisa naik kelas menjadi produk budaya nasional. Satu kunjungan ke Pacitan saat Ramadan akan memberimu perspektif baru tentang bagaimana sebuah kentongan bambu bisa menggetarkan jantung sebuah kota.