KALIMANTAN UTARA — Banjir bandang yang dipicu runtuhan es dan batu gletser di kawasan Himalaya telah meluluhlantakkan Lembah Langtang, salah satu destinasi trekking paling populer di Nepal. Peristiwa yang terjadi di perbatasan China-Nepal ini tidak hanya merusak permukiman warga, tetapi juga melumpuhkan total akses menuju jalur pendakian yang selama ini menjadi incaran para petualang global.
Syabrubesi, titik keberangkatan utama menuju Langtang, menjadi wilayah dengan kerusakan paling parah. Laporan media Perancis, Le Monde, menyebut kawasan tersebut hancur setelah diterjang material lumpur, batu, dan es yang meluncur deras ke wilayah hilir.
Langtang merupakan satu dari tiga kawasan trekking utama Nepal yang direkomendasikan Nepal Tourism Board, sejajar dengan Everest dan Annapurna. Letaknya sekitar 130 kilometer di utara Lembah Kathmandu, berbatasan langsung dengan Tibet, China.
Keindahan kawasan ini ditopang oleh panorama Gunung Langtang Lirung yang menjulang, hutan pegunungan yang lebat, gletser, serta danau-danau dataran tinggi. Selain kekayaan alam, para pendaki juga dimanjakan dengan pengalaman budaya masyarakat Tamang yang mendiami desa-desa di sepanjang rute.
Rute paling favorit di kawasan ini adalah Langtang Valley Trek. Perjalanan umumnya dimulai dari Syabrubesi dan berakhir di Kyanjin Gompa pada ketinggian sekitar 3.800 meter di atas permukaan laut. Sepanjang perjalanan, pendaki akan melewati Bamboo, Lama Hotel, Ghora Tabela, hingga Desa Langtang.
Selain rute utama tersebut, terdapat Gosaikunda, danau suci di ketinggian 4.380 meter, serta Tamang Heritage Trail yang menawarkan pengalaman menyusuri desa-desa tradisional.
Sayangnya, bencana ini menghancurkan puluhan jembatan dan sekitar 40 kilometer jalan penghubung. Kerusakan infrastruktur tersebut membuat proses evakuasi dan pencarian korban berjalan sangat lambat.
Hingga Kamis (27/8), laporan The Guardian mencatat hampir 1.400 orang dilaporkan hilang di Nepal dan Tibet. Rinciannya, 826 orang belum diketahui keberadaannya di Nepal, dan hampir 600 di antaranya merupakan warga negara asing.
Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) memastikan bencana ini bukan disebabkan oleh gempa bumi. Getaran yang terekam instrumen berasal dari runtuhan material es dan batu gletser yang kemudian memicu aliran debris (material campuran air, lumpur, dan bebatuan).
Analisis awal citra satelit Planet Labs menunjukkan longsoran es dan batu memicu aliran material di Sungai Lhende, sekitar 20 kilometer dari perbatasan Rasuwagadhi. Material tersebut kemudian meluncur deras menyapu permukiman dan infrastruktur di sepanjang aliran sungai.
Para ahli menilai kondisi geografis Himalaya yang ekstrem dan perubahan iklim meningkatkan risiko kejadian serupa di masa mendatang. Pemicu langsung kali ini adalah runtuhan es dan batu yang menghasilkan aliran debris dalam skala besar.
Bagi traveler yang telah merencanakan perjalanan ke Langtang, operasi pencarian dan evakuasi masih berlangsung. Kerusakan akses jalan membuat upaya penyelamatan menjadi sulit, dan otoritas Nepal belum memberikan kepastian kapan jalur trekking akan kembali dibuka. Disarankan untuk menunda perjalanan dan memantau informasi resmi dari Nepal Tourism Board sebelum menentukan keberangkatan.