TANJUNG SELOR — Polresta Bulungan tidak hanya mengandalkan patroli siber dalam mengawasi pergerakan kelompok radikal. Kali ini, aparat memilih jalur pendidikan dengan menjadikan kepala sekolah sebagai mitra deteksi dini atas perilaku pelajar di dunia maya.
Melalui sosialisasi bertajuk "Edukasi Algoritma Penggunaan Media Sosial", Wakasat Binmas Polresta Bulungan Iptu Lince Karnilawati memaparkan bagaimana sistem rekomendasi platform digital bekerja secara bertahap menjebak pengguna muda ke dalam lingkaran konten berbahaya. Kegiatan yang berlangsung sejak pukul 08.30 WITA ini dihadiri langsung oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Bulungan, Drs. Suparmin, S.
Iptu Lince menjelaskan bahwa algoritma media sosial bekerja berdasarkan riwayat tontonan dan interaksi. Semakin sering seorang siswa mengakses konten kekerasan, semakin besar pula kemungkinan platform merekomendasikan materi serupa dengan tingkat eskalasi yang lebih tinggi.
"Algoritma media sosial dapat menggiring pola konsumsi informasi anak-anak kita secara bertahap berdasarkan riwayat tontonan dan interaksinya. Edukasi ini penting agar sekolah dan orang tua memiliki pemahaman literasi digital yang kuat untuk mendeteksi dini serta memfilter konten yang mengarah pada radikalisme, paham neo-Nazi, hingga subkultur True Crime Community (TCC) ekstrem yang mengagungkan kejahatan kekerasan," ujar Iptu Lince Karnilawati.
Dalam paparannya, Tim Densus 88 AT/Polri yang dipimpin Ipda Kurniawan memberikan pembedaan tegas mengenai komunitas true crime. TCC biasa merujuk pada masyarakat yang menyimak dokumenter kriminal secara normatif, sedangkan TCC ekstrem merupakan subkultur daring yang mengidolakan pelaku pembunuhan massal, membuat fan edit, hingga mendorong aksi peniruan atau copycat.
Perbedaan ini dinilai krusial agar para guru tidak salah kaprah dalam menyikapi ketertarikan siswa terhadap konten kriminal. Kecurigaan harus mengarah pada perilaku spesifik, bukan sekadar minat menonton.
Para kepala sekolah dibekali sejumlah indikator bahaya yang harus dipantau di lingkungan sekolah. Beberapa di antaranya adalah perilaku siswa yang mengagungkan pelaku kekerasan, menyebarkan narasi kebencian, melakukan doxxing, atau menunjukkan kecenderungan provokasi tindakan kriminal.
Kegiatan interaktif yang diisi dengan forum diskusi ini juga menghadirkan Aipda Gunawan Hadi Saputra selaku Ps. Kasubnit Bintibsos Satbinmas serta personel Sat Intelkam Polresta Bulungan. Kehadiran mereka memperkuat sinergi antara kepolisian dan institusi pendidikan dalam membangun ekosistem digital yang sehat bagi pelajar.
Usai mengikuti sosialisasi, jajaran kepala sekolah diharapkan segera berkoordinasi dengan para guru dan orang tua atau wali murid. Langkah ini ditujukan untuk memperketat pengawasan serta pendampingan terhadap siswa, baik di lingkungan sekolah maupun di rumah.
Kepala Disdikbud Kabupaten Bulungan Drs. Suparmin, S. menegaskan komitmennya untuk menindaklanjuti materi yang telah diberikan. Pihaknya akan mendorong setiap sekolah menyusun mekanisme pelaporan dan konsultasi jika menemukan indikasi siswa yang terpapar konten ekstrem.
Seluruh rangkaian acara yang bersifat preventif ini berlangsung lancar, aman, tertib, dan kondusif sejak pukul 08.30 WITA hingga 11.35 WITA. Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya mewujudkan pendidikan yang aman dan bermutu di Kabupaten Bulungan.