KALIMANTAN UTARA — Garmin menggelar acara live event pertamanya untuk memperkenalkan Fenix 9 dan Fenix 9 Pro. Sorotan utamanya bukan pada fitur, melainkan harga yang jauh dari kata ramah kantong. Varian dasar dibanderol US$ 1.099,99 (sekitar Rp 18,1 juta), dan Garmin sama sekali tidak menyebutkan angka tersebut selama acara berlangsung. Ini sinyal jelas bahwa segmen yang mereka bidik memang sempit.
Sebagai perbandingan, Apple Watch Ultra 3 yang juga masuk radar penggemar wearable dibanderol US$ 799 (sekitar Rp 13,2 juta). Selisih harga yang cukup jauh ini mengubah pertanyaan besarnya: bukan lagi soal fitur, melainkan siapa yang benar-benar membutuhkan kemampuan semacam itu.
Fenix 9 Pro membawa peningkatan paling signifikan pada sektor layar. Teknologi AMOLED yang digunakan kini memiliki tingkat keterbacaan lebih baik, terutama bagi pengguna yang sebelumnya kesulitan melihat layar jam dalam kondisi cuaca ekstrem. Ini adalah peningkatan praktis yang langsung terasa manfaatnya, bukan sekadar angka spesifikasi di atas kertas.
Kemampuan solar charging juga menjadi nilai jual utama. Bagi mereka yang sering melakukan ekspedisi berhari-hari di alam terbuka tanpa akses listrik, fitur ini bisa memperpanjang umur baterai secara dramatis. Namun, perlu dicatat bahwa fitur ini tidak tersedia di semua varian, hanya model 47mm ke atas.
Garmin membanderol Fenix 9 dan Fenix 9 Pro dengan harga yang membuat banyak calon pembeli mengerutkan kening. Harga termurah untuk seri ini adalah US$ 1.099,99 (sekitar Rp 18,1 juta), sementara varian tertingginya bisa menembus angka yang jauh lebih tinggi. Untuk pasar Indonesia, belum ada informasi resmi mengenai ketersediaan dan harga lokal.
Strategi harga ini terasa janggal mengingat Garmin mencoba menjangkau audiens yang lebih luas lewat acara peluncuran besar pertamanya. Alih-alih menarik pengguna baru dari kubu Apple Watch, langkah ini justru terkesan eksklusif dan hanya menyasar atlet profesional atau pengguna dengan kebutuhan sangat spesifik.
Kabar baiknya, Garmin masih punya lini produk yang jauh lebih ramah kantong. Venu 4 misalnya, yang dinobatkan sebagai smartwatch Garmin terbaik untuk pengguna umum, dibanderol US$ 549,99 (sekitar Rp 9 juta). Perangkat ini dirancang untuk mereka yang aktif berolahraga namun tidak menekuni disiplin atletik ekstrem, seperti pelari maraton tahunan atau pendaki gunung.
Bagi yang anggarannya lebih ketat, Vivoactive 6 hadir dengan harga US$ 299,99 (sekitar Rp 4,9 juta). Jangan salah sangka, perangkat ini tetap membawa fitur premium seperti layar AMOLED dan daya tahan baterai 11 hari. Banyak fitur yang dulunya eksklusif di lini Fenix kini sudah tersedia di produk kelas menengah ini.
Sejarah Garmin menunjukkan pola yang konsisten: fitur-fitur unggulan dari seri premium akan turun ke lini yang lebih terjangkau dalam beberapa generasi berikutnya. Fenix 9 dan Fenix 9 Pro hari ini mungkin terasa di luar jangkauan, tapi bukan tidak mungkin fitur seperti layar AMOLED yang lebih terang atau pengisian surya akan hadir di Venu atau Vivoactive dalam waktu dekat.
Bagi pengguna yang tidak membutuhkan fitur kelas atlet profesional, menunggu adalah strategi yang masuk akal. Harga akan turun, fitur akan menyebar, dan pada akhirnya Anda bisa mendapatkan teknologi yang sama tanpa harus merogoh kocek lebih dari Rp 18 juta. Fenix 9 adalah produk hebat, tapi tidak semua orang butuh kemampuannya hari ini.