TARAKAN — Kesederhanaan bukan halangan bagi Mersia Dua Moong untuk membangun usaha tenun yang kini dikenal hingga tingkat nasional. Dari sebuah bangunan kayu seluas 15 meter persegi di RT 23, Kelurahan Sebengkok, Kecamatan Tarakan Tengah, ia bersama suaminya, Petrus Pie, mengelola brand Tenun D'Utan yang mengangkat motif khas suku Tiduk dan Dayak.
Nama D'Utan sendiri diambil dari bahasa lokal, Dena yang berarti membuat dan Utang yang berarti kain tenun. Lebih dari sekadar komoditas, setiap helai kain yang dihasilkan adalah upaya Mersia merajut memori dan identitas budaya Kalimantan Utara (Kaltara) di tengah gempuran produk tekstil modern.
Perjalanan ini bermula sekitar tahun 2015, tak lama setelah Mersia memutuskan berhenti dari pekerjaannya. Ia mengaku prihatin melihat banyak penenun di Kaltara yang masih menggunakan motif bawaan dari luar daerah, seperti kain bercorak Nusa Tenggara Timur (NTT).
"Cuma kadang sedih juga, di Kaltara ini masih banyak penenun yang pakai motif bawaan dari luar daerah, seperti kain motif NTT. Terus rata-rata warnanya juga masih banyak pakai pewarna kimia yang kurang ramah buat lingkungan. Makanya pelan-pelan kami mau buat identitas kita sendiri," ungkap Mersia.
Dorongan dari Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah dan Perdagangan Kota Tarakan membuatnya semakin mantap menggali kekayaan alam dan kearifan lokal. Motif seperti tanduk galung, kujau, hingga batu semandak kini menjadi ciri khas yang membedakan produknya dari tenun daerah lain.
Inovasi Mersia tidak berhenti pada motif. Untuk urusan warna, ia memanfaatkan potensi alam Kaltara secara bijak tanpa merusak lingkungan. Rebusan arang digunakan untuk menghasilkan warna abu-abu, sementara kayu meranti, kulit bakau, dan kayu secang diolah menjadi pewarna merah muda alami.
Kelompok tenun Sikka Borneo binaannya kini juga tengah menyiapkan inovasi terbaru berupa kain katun yang diselipi anyaman rotan. Langkah ini diambil untuk memberikan karakter khas yang semakin kuat pada produk-produknya.
"Harapannya kalau ada tamu atau pejabat datang ke Kaltara, mereka bisa bawa pulang oleh-oleh kain yang berkualitas dan benar-benar punya cerita dari tanah kita sendiri," tambah Mersia.
Dampak sosial usaha ini terasa hangat bagi warga sekitar. Mersia merangkul sekitar 15 perajin lokal yang didominasi ibu rumah tangga asal Flores yang telah lama menetap di Tarakan. Sistem kerja yang fleksibel menjadi kunci, di mana para perajin bisa menenun dari rumah masing-masing setelah menyelesaikan urusan domestik.
"Biasanya kami baru bisa ngumpul menenun itu setengah hari ke atas, setelah pekerjaan rumah tangga selesai. Harapan kami sederhana, lewat tenun yang ramah lingkungan ini, ekonomi dapur ibu-ibu bisa sedikit terbantu dan identitas asli Kaltara bisa terus hidup," ujar Mersia.
Dengan proses pengerjaan yang sepenuhnya handmade, satu lembar kain berukuran 3 meter x 85 cm membutuhkan waktu hingga tiga minggu. Dalam sebulan, kelompok ini hanya mampu memproduksi sekitar empat lembar kain eksklusif. Produknya dibanderol mulai dari Rp200.000 untuk syal, hingga Rp2.000.000 untuk lembaran kain pewarna alami.
Di tengah ketatnya persaingan, transformasi digital menjadi penopang utama kelangsungan usaha. Sejak mengadopsi sistem transaksi QRIS beberapa tahun lalu, penjualan menjadi lebih praktis. Mersia juga aktif memasarkan produknya melalui status WhatsApp dan media sosial TikTok.
Pembinaan berkelanjutan dari Bank Indonesia (BI) Kaltara selama 3–4 tahun terakhir menjadi titik balik. BI memberikan pelatihan peningkatan keterampilan, bantuan alat tenun, serta melibatkan Tenun D'Utan dalam ajang Karya Kreatif Benuanta (KKB) dan Karya Kreatif Indonesia (KKI) di Jakarta.
Puncaknya, Tenun D'Utan dinobatkan sebagai UMKM Binaan Terbaik Provinsi Kalimantan Tahun 2024 oleh BI Kaltara. Karya Mersia bahkan lolos kurasi ketat hingga menjadi sampul buku Wastra Nusantara 2024 dan dikenakan sebagai busana resmi oleh Gubernur BI, Perry Warjiyo, beserta istri.
Kini, dari dentakan alat tenun di rumah kayu sederhana itu, Mersia telah membuktikan hasil manisnya. Perekonomian keluarganya yang sempat terpuruk bangkit kembali. Ia tak hanya mampu merenovasi rumah tinggalnya, tetapi juga berhasil membiayai pendidikan anaknya hingga ke jenjang perguruan tinggi.