KALIMANTAN UTARA — Gempa bumi yang mengguncang NTT pada 15 Agustus 2026 memicu respons cepat dari tiga entitas BUMN kesehatan. Bio Farma Group tidak bergerak sendiri-sendiri; seluruh sumber daya dari Bio Farma, Kimia Farma Group, dan Indofarma dilebur menjadi satu kekuatan tanggap darurat.
Direktur Utama PT Bio Farma (Persero), Shadiq Akasya, menegaskan bahwa respons ini bukan sekadar seremonial penyaluran bantuan. "Dalam situasi bencana, kebutuhan masyarakat menjadi fokus respons kami. Bio Farma Group bergerak sebagai satu kesatuan dengan mengintegrasikan kapabilitas Bio Farma, Kimia Farma Group, dan Indofarma serta berkoordinasi dengan pemerintah dan pemangku kepentingan terkait," ujarnya.
Vaksin Tetanus Difteri menjadi perhatian utama dalam penanganan pascagempa. Sebanyak 3.000 dosis vaksin Td disalurkan untuk melindungi relawan dan warga dari risiko infeksi akibat luka terbuka atau kondisi lingkungan yang tidak higienis di lokasi pengungsian.
Selain vaksin, Bio Farma Group mengirimkan obat-obatan, vitamin, alat kesehatan, dan perlengkapan Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K). Semua barang dikirim bertahap sejak 17 Agustus 2026 dan masih terus berjalan hingga kini, menyesuaikan kebutuhan lapangan yang dinamis.
Bantuan tidak berhenti pada urusan medis. Kelompok rentan seperti bayi dan balita menjadi perhatian khusus. Bio Farma Group menyalurkan susu, popok bayi, makanan dan minuman, selimut, serta hygiene kit untuk memastikan kebutuhan dasar para pengungsi terpenuhi selama masa darurat.
Shadiq menjelaskan bahwa kekuatan grup ini justru terletak pada kapabilitas yang saling melengkapi. "Mulai dari produk biologi dan vaksin, produk farmasi dan layanan kesehatan, hingga distribusi dan berbagai sumber daya pendukung kesehatan," jelasnya. "Dalam konteks kebencanaan, kapabilitas tersebut kami gerakkan secara terkoordinasi. Bukan sebagai respons yang berjalan sendiri-sendiri."
Agar bantuan tidak salah sasaran, Bio Farma Group berkoordinasi dengan Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan RI dan Dinas Kesehatan daerah NTT. Dukungan logistik juga melibatkan TNI Angkatan Udara, Pusat Penerbangan Angkatan Darat (Puspenerbad), PT Angkasa Pura Indonesia (InJourney Airports), BNPB, serta BPBD Provinsi NTT.
Koordinasi ini memastikan setiap pengiriman didasarkan pada identifikasi kebutuhan riil di lapangan, bukan asumsi dari pusat. Jaringan Bio Farma Group di daerah turut memantau distribusi agar bantuan menjangkau lokasi pengungsian secara efektif.
Bagi Bio Farma Group, kinerja perusahaan tidak diukur semata dari capaian bisnis. "Kami memastikan sumber daya kesehatan yang kami miliki dimanfaatkan secara tepat, relevan, dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat terdampak," tambah Shadiq. Respons ini menjadi wujud komitmen grup untuk bergerak dari kinerja menuju dampak, memperkuat ketahanan kesehatan nasional, dan menghadirkan nilai sosial ketika masyarakat menghadapi kondisi darurat.
Melalui sinergi Bio Farma, Kimia Farma Group, Indofarma, dan seluruh entitas terkait, grup ini berkomitmen terus mendampingi pemerintah dalam penanganan dan pemulihan pascabencana di NTT hingga kondisi masyarakat kembali pulih.