TANA TIDUNG — Kekuatan personel Polres Tana Tidung baru sekitar 230 anggota, sementara kebutuhan minimal untuk operasional kepolisian di wilayah tersebut mencapai 500 orang. Kapolres Tana Tidung AKBP Eko Nugroho menyebut jarak antara jumlah ideal dan realita di lapangan masih sangat jauh, sehingga membutuhkan perhatian serius dari pimpinan Polda Kalimantan Utara.
“Minimal itu 500, sekarang yang ada 230. Jauh, sangat jauh sekali. Masih sekitar 250 untuk mendekati DSP kecukupan. Tapi ditambah 200 saja sebenarnya sudah ideal sekali,” ujar Eko kepada media, Senin (19/8).
Berbeda dengan daerah perkotaan, Tana Tidung memiliki karakteristik geografis yang unik. Jarak antardesa yang berjauhan membuat mobilitas personel menjadi tantangan tersendiri dalam memberikan pelayanan cepat kepada masyarakat.
Menurut Eko, kekuatan anggota yang ada saat ini belum proporsional dengan luas wilayah yang harus dijangkau. Penambahan personel dinilai akan membantu memperpendek kesenjangan pelayanan di lapangan, terutama untuk daerah-daerah terpencil.
Peta kebutuhan personel tidak hanya mengacu pada luas wilayah, tetapi juga mempertimbangkan jumlah penduduk. Dengan populasi sekitar 30 ribu jiwa, Polres Tana Tidung perlu memastikan setiap kecamatan memiliki porsi pengamanan yang memadai.
“Karena dengan jumlah penduduk, jadi nanti peta persebarannya akan pas. Jumlah penduduk kita kan 30 ribu-an. Jadi dengan tambahnya kurang lebih 200 personel ya itu akan menolong sekali,” katanya.
Upaya pemenuhan kebutuhan personel tidak berhenti sampai di tingkat polres. Eko mengaku telah menyampaikan usulan penambahan anggota kepada Kapolda Kaltara, Wakapolda, dan Karo SDM untuk menjadi bahan pertimbangan penempatan personel ke depan.
“Kemarin sudah kita ajukan juga ke pimpinan, ke Pak Kapolda dan Pak Waka dan Karo SDM. Ya kemungkinan ke depan akan ada tambahan lagi. Karena Polda sendiri juga kekurangan personel,” jelasnya.
Tantangan terbesar dalam pemenuhan kebutuhan ini adalah keterbatasan jumlah personel di tingkat Polda Kaltara. Anggota yang akan ditempatkan di Tana Tidung tidak bisa didatangkan dari luar daerah, melainkan harus berasal dari jajaran Polda Kaltara yang juga mengalami kekurangan.
“Anggota yang akan masuk KTT kan enggak mungkin dari Polda luar. Otomatis yang sudah menjadi personel Polda Kaltara. Nah, personel Polda Kaltara yang mau diputar untuk masuk KTT sendiri, itu minim. Jadi memang berat beliau ini tugasnya,” ungkap Eko.
Untuk solusi jangka panjang, pimpinan Polda Kaltara telah mengajukan permohonan ke Mabes Polri agar jumlah personel di jajaran Polda Kaltara ditingkatkan. Penambahan kekuatan di tingkat polda diharapkan membuka peluang rotasi personel ke Polres Tana Tidung.
Eko menegaskan bahwa penambahan personel bukan sekadar mengejar angka ideal organisasi, melainkan untuk memastikan kekuatan anggota tersebar sesuai kebutuhan wilayah. Dengan kondisi geografis Tana Tidung, tambahan personel akan membantu memperpendek kesenjangan kekuatan di lapangan.
“Dengan jumlah penduduk kita yang 30 ribu-an dan wilayah yang persebarannya seperti ini, kalau ada tambahan kurang lebih 200 personel, itu akan sangat menolong. Peta persebaran anggota juga akan lebih pas dengan kebutuhan pelayanan di lapangan,” pungkasnya.