HUT Ke-81 RI di Tarakan, Wali Kota Khairul Ingatkan Keberagaman Bisa Jadi Potensi Kerawanan

Penulis: Galih Prayoga  •  Senin, 17 Agustus 2026 | 17:08:02 WIB
Wali Kota Tarakan, dr. H. Khairul, M.Kes., menyampaikan pidato pada peringatan HUT Ke-81 RI di Tarakan, Senin (17/8/2026).

TARAKAN — Wali Kota Tarakan, dr. H. Khairul, M.Kes., mengingatkan masyarakat untuk menjaga persatuan di tengah dinamika kebangsaan yang terjadi di sejumlah daerah. Menurutnya, keberagaman suku, agama, ras, dan etnis di Indonesia merupakan kekuatan sekaligus potensi kerawanan bila tidak dikelola dengan baik.

“Persoalan kebangsaan ini kan menjadi hal yang sangat krusial sekarang di negara yang sangat majemuk ini,” ujarnya di Tarakan, Senin (17/8/2026).

Tarakan, Miniatur Indonesia yang Rentan Konflik

Khairul menilai kondisi tersebut relevan dengan kondisi Tarakan yang kerap disebut sebagai miniatur Indonesia. Kota ini dihuni oleh masyarakat dari berbagai suku, mulai dari Sumatera hingga Papua.

“Tarakan kan kita selalu bilang bahwa Tarakan miniatur Indonesia, terdiri dari berbagai suku, hampir semua suku ada di sini,” katanya.

Keberagaman di kota pesisir ini tidak hanya soal suku. Khairul menyebut enam agama yang diakui pemerintah hidup berdampingan di Tarakan, yakni Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu, serta beberapa aliran lainnya.

Komunikasi Antarwarga Jadi Kunci Perawat Persatuan

Menurut Khairul, perbedaan yang tidak dirajut dengan komunikasi yang baik bisa memicu kerawanan. Ia pun mendorong warga untuk terus membangun pertemuan dan dialog antarkelompok.

“Melalui komunikasi, pertemuan-pertemuan terus seperti tadi kita selalu menumbuhkan rasa nasionalisme di antara warga kita,” tegasnya.

Ia berharap dinamika yang terjadi di daerah lain, termasuk munculnya simbol-simbol identitas kedaerahan, tidak berkembang di Tarakan maupun Kalimantan Utara.

“Harapannya sih mudah-mudahan itu tidak terjadi di Tarakan dan Kalimantan Utara pada umumnya,” tukasnya.

Kritik pada Pemerintah Tak Perlu Menyentuh Simbol Negara

Ketua Badan Pengurus Kota Organisasi Orang Indonesia (OI) Tarakan, Che Ageng, menilai penggunaan bendera lain adalah hak setiap orang. Namun, ia menegaskan ketidaksetujuan terhadap kebijakan pemerintah seharusnya tidak dikaitkan dengan Merah Putih.

“Ketika ada hal-hal yang katakanlah kita tidak setuju atau tidak suka dengan kebijakan pemerintah, saya pikir tidak ada sangkut-pautnya dengan bendera Merah Putih,” katanya.

Che Ageng mengingatkan bahwa Merah Putih hadir berkat perjuangan para pahlawan. Mengibarkan bendera dan menyanyikan Indonesia Raya merupakan bentuk penghormatan terhadap jasa mereka.

“Bendera Merah Putih ini ada itu karena ada para pejuang-pejuang, pahlawan kita terdahulu,” jelasnya.

Ia menegaskan sikap kritis terhadap pemerintah tetap bisa berjalan tanpa meninggalkan simbol negara. Menurutnya, kritik dapat disampaikan langsung kepada pemerintah atau kebijakannya.

“Kalau kami, ketika kami tidak suka dengan kebijakan pemerintah dan segala macam, ya kita kritik pemerintahnya,” ujarnya.

“Merah Putih harus tetap berkibar, dan harus tetap kita bawa siapapun musuhnya. Walaupun bangsa kita sendiri, tetap kita pakai Merah Putih,” pungkasnya.

Reporter: Galih Prayoga
Sumber: benuanta.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top