KALIMANTAN UTARA — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan kaldera Gunung Bromo, Jawa Timur, masih belum bisa dijinakkan hingga Senin (11/8/2026). Kobaran api justru meluas drastis, menjadikan kawasan B209 Pusung Jantur, Desa Sariwani, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, sebagai salah satu titik terparah yang terus dipantau petugas.
Berdasarkan data terbaru, area terdampak mencapai 520 hektare, melonjak tajam dari catatan awal pekan lalu yang baru sekitar 176 hektare. Kondisi ini menunjukkan api bergerak cepat melewati vegetasi kering di lereng gunung.
Petugas gabungan kesulitan melakukan pemadaman langsung karena titik api berada di jurang dan lereng curam. Alat berat tak bisa dioperasikan, sementara mobil pemadam kebakaran tidak mampu menjangkau lokasi.
Tiupan angin di ketinggian memperburuk situasi. Kecepatan angin yang fluktuatif membuat api mudah berpindah ke area yang belum terbakar, sekaligus mengancam keselamatan tim di lapangan.
Pemerintah telah berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk mengkaji kemungkinan operasi modifikasi cuaca. Tujuannya memicu hujan buatan guna membasahi lahan gambut dan semak yang terbakar.
Hasil perhitungan teknokratik menunjukkan peluang keberhasilan sangat kecil. Dalam sepuluh hari ke depan, potensi pertumbuhan awan hujan di sekitar wilayah Bromo dinilai minim, sehingga operasi teknis ini hampir dipastikan gagal dilakukan.
Dengan batalnya opsi modifikasi cuaca, pemerintah memilih memaksimalkan pemadaman langsung di titik-titik yang masih aktif. Strategi ini difokuskan untuk mencegah api membesar kembali atau merembet ke kawasan konservasi lain yang belum tersentuh.
Petugas dikerahkan menyisir area terdampak secara manual menggunakan peralatan sederhana seperti pompa punggung dan alat pemukul api. Langkah ini memang lebih lambat, tetapi dianggap paling realistis di tengah keterbatasan akses dan kondisi geografis yang ekstrem.
Kebakaran di Bromo menjadi bagian dari rangkaian karhutla yang melanda Pulau Jawa, termasuk Gunung Gede Pangrango. Pemerintah daerah berharap intensitas api bisa ditekan sebelum musim kemarau mencapai puncaknya.