Ekonom Kaltara Ingatkan Pertumbuhan 4,96 Persen Tak Cukup, Sektor Pertanian dan Peternakan Harus Digarap

Penulis: Galih Prayoga  •  Kamis, 06 Agustus 2026 | 23:57:31 WIB
Ekonom Kaltara Dr. Syaiful Anwar menyampaikan paparan soal pertumbuhan ekonomi daerah di Tarakan, Kamis (6/8/2026).

TARAKAN — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Kalimantan Utara mencapai 4,96 persen secara tahunan pada triwulan II 2026. Secara kumulatif semester I 2026, laju ekonomi daerah ini bahkan menyentuh 5,09 persen, angka yang masih di atas rata-rata nasional.

Namun, di balik angka tersebut, akademisi sekaligus Ekonom Kaltara, Dr. Syaiful Anwar, S.E., M.Si., mengingatkan adanya kerentanan struktural. Motor utama pertumbuhan masih didominasi investasi, pengadaan listrik dan gas, serta pertambangan—sektor yang sangat sensitif terhadap gejolak ekonomi global.

Ketergantungan Komoditas Batu Bara dan Migas Jadi Celah Kerentanan

Konflik internasional dan perang dagang disebut Dr. Syaiful berpotensi langsung menggerus kinerja ekonomi Kaltara. Sebagai salah satu penghasil batu bara, minyak, dan gas, daerah ini berada di garda terdepan dalam menyerap dampak perubahan harga komoditas dunia.

"Perubahan harga minyak, gas, maupun batu bara di pasar dunia tentu ikut memengaruhi pertumbuhan ekonomi Kalimantan Utara," jelasnya, Kamis (6/8/2026).

Pertanian dan Peternakan: PR Besar yang Masih Tertinggal

Dr. Syaiful menyoroti sektor pertanian yang belum dioptimalkan padahal lahan tersedia luas. Penguatan sektor ini dinilai sejalan dengan program nasional ketahanan pangan dan Makan Bergizi Gratis yang tengah digalakkan pemerintah pusat.

"Sektor pertanian harus ikut diperkuat agar petani juga merasakan manfaat dari pertumbuhan ekonomi," ujarnya.

Yang lebih memprihatinkan, kebutuhan pokok seperti telur masih didatangkan dari luar daerah. Ketergantungan logistik semacam ini membuat harga pangan di Kaltara rapuh terhadap gangguan rantai pasok.

"Kita masih bergantung pada pasokan dari luar untuk memenuhi kebutuhan pokok. Ini yang harus menjadi perhatian pemerintah daerah," imbuhnya.

Kontribusi ke Pulau Kalimantan Masih Terendah, Peluang Investasi Terbuka Lebar

Data BPS menunjukkan kontribusi ekonomi Kaltara terhadap perekonomian Pulau Kalimantan baru mencapai 8,04 persen, terendah dibandingkan provinsi tetangga. Dr. Syaiful menilai kondisi ini ironis mengingat potensi sumber daya alam yang dimiliki sangat besar.

"Potensi sumber daya alam kita besar, tetapi belum digarap secara maksimal sehingga kontribusi ekonomi Kaltara masih relatif kecil," kata dia.

Meski peluang investasi terbuka, ia menegaskan iklim usaha yang kondusif menjadi prasyarat mutlak. Rasa aman bagi investor harus berjalan beriringan dengan keterlibatan masyarakat lokal agar manfaatnya terasa merata.

"Investor harus merasa aman berusaha, tetapi masyarakat juga harus dilibatkan agar sama-sama merasakan manfaat investasi," terangnya.

Proyek Strategis Nasional dan Hilirisasi Sawit Wajib Berdampak ke Warga

Sejumlah proyek besar tengah berjalan di Kaltara, mulai dari Kawasan Industri Hijau Indonesia (KIHI) di Mangkupadi, pembangunan PLTA Mentarang, hingga industri galangan kapal. Harapannya, proyek-proyek ini tidak sekadar menjadi proyek fisik, tetapi mampu membuka lapangan kerja dan menggerakkan UMKM lokal.

"Proyek-proyek strategis itu harus memberikan manfaat bagi daerah, UMKM, dan tenaga kerja lokal," papar Dr. Syaiful.

Di sektor perkebunan, ia mendorong percepatan hilirisasi sawit agar komoditas tidak lagi dijual dalam bentuk bahan mentah. Pengolahan di dalam daerah akan meningkatkan nilai tambah dan memperbesar kontribusi sektor perkebunan terhadap perekonomian Kaltara.

Reporter: Galih Prayoga
Sumber: benuanta.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top