NUNUKAN — Beredarnya konten provokatif yang menyerang identitas suku tertentu di media sosial memicu langkah cepat pemerintah daerah. Alih-alih membiarkan persoalan berkembang, Pemkab Nunukan justru memilih mengumpulkan seluruh elemen masyarakat dalam satu meja untuk menegaskan komitmen menjaga persaudaraan.
Pertemuan yang digelar di ruang pertemuan Kantor Pemkab Nunukan itu dihadiri Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga tokoh pemuda. Rapat berlangsung tertutup dan menghasilkan keputusan bersama yang dibacakan langsung oleh Bupati Nunukan, H. Irwan Sabri.
Bupati Irwan Sabri membacakan lima poin kesepakatan yang menjadi komitmen seluruh peserta rapat. Poin-poin ini menjadi panduan bersama dalam menyikapi situasi terkini dan menjaga keamanan daerah.
Dalam pertemuan tersebut terungkap bahwa akun media sosial yang menjadi perhatian diduga merupakan akun palsu (fake account). Konten yang disebarkan dinilai provokatif karena menyerang identitas suku tertentu dan berpotensi mengganggu kondusivitas yang selama ini terjaga di Kabupaten Nunukan.
"Boleh berbeda suku, budaya, maupun keyakinan, tetapi kita tetap satu masyarakat Nunukan. Persatuan harus menjadi kekuatan kita menghadapi setiap persoalan," tegas Irwan di hadapan para tokoh yang hadir.
Irwan menegaskan bahwa menjaga keamanan bukan hanya tugas aparat. "Menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat merupakan tanggung jawab kita bersama. Bukan hanya pemerintah dan aparat keamanan, tetapi juga tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, dan seluruh warga Kabupaten Nunukan," ujarnya.
Pemkab Nunukan mengajak seluruh masyarakat untuk lebih bijak dalam menggunakan media sosial. Warga diminta tidak memberikan ruang bagi pihak-pihak yang sengaja ingin memecah belah kebersamaan melalui akun-akun anonim.
Pertemuan ini menjadi pengingat bahwa Nunukan dibangun di atas keberagaman. Berbagai suku, agama, dan budaya telah hidup berdampingan selama bertahun-tahun dalam semangat saling menghormati. Kedamaian tidak hadir dengan sendirinya, melainkan lahir dari kemauan semua pihak untuk saling mendengar dan bersama-sama menjaga rumah besar bernama Kabupaten Nunukan. (*)