Laba KAI Anjlok ke Rp314 Miliar, Beban Kereta Cepat Jakarta-Bandung Tembus Rp3 Triliun

Penulis: Kemal Batubara  •  Senin, 03 Agustus 2026 | 12:25:31 WIB
Laba sebelum pajak KAI Group pada semester I-2026 tercatat Rp842,69 miliar, turun dari Rp1,86 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.

KALIMANTAN UTARA — Laporan keuangan KAI Group yang belum diaudit (unaudited) menunjukkan laba sebelum pajak perusahaan pada enam bulan pertama 2026 hanya sebesar Rp842,69 miliar. Angka ini merosot tajam dari posisi Rp1,86 triliun pada semester I-2025. Penyebab utamanya jelas: porsi rugi bersih dari entitas asosiasi dan usaha patungan melonjak hampir tiga kali lipat, dari Rp948,20 miliar menjadi Rp3,00 triliun.

Beban terbesar berasal dari PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI), perusahaan patungan yang menjadi pemegang saham PT Kereta Cepat Indonesia-China (KCIC), operator Whoosh. Berdasarkan data yang dihimpun, PSBI masih mencatatkan rugi hingga Rp5,13 triliun. Kondisi keuangan entitas ini juga rapuh—total liabilitasnya mencapai Rp21,54 triliun, sedikit lebih tinggi dari total asetnya yang tercatat Rp21,52 triliun.

Pendapatan Naik, Ekuitas Menguat

Di balik tekanan laba tersebut, fundamental operasional KAI justru menunjukkan perbaikan. Pendapatan usaha tumbuh 6,6 persen secara tahunan menjadi Rp17,96 triliun. Pertumbuhan ini disebut didorong oleh peningkatan produktivitas layanan penumpang dan barang, serta sinergi antar-entitas di grup.

Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, menegaskan bahwa penguatan pendapatan dan laba usaha menjadi modal utama perseroan untuk menjaga keselamatan perjalanan dan kualitas pelayanan. "Kinerja bisnis yang kuat juga mendukung keberlanjutan pengembangan layanan penumpang dan barang," ujarnya dalam keterangan resmi, Minggu (2/8/2026).

Dari sisi neraca, total aset KAI Group per 30 Juni 2026 tercatat Rp104,79 triliun. Ekuitas perusahaan naik dari Rp39,29 triliun menjadi Rp39,69 triliun, sementara utang jangka pendek berhasil ditekan dari Rp16,20 triliun menjadi Rp15,17 triliun. Total liabilitas juga turun tipis menjadi Rp65,11 triliun dibanding posisi akhir Desember 2025 sebesar Rp66,14 triliun.

Danantara Angkat Bicara soal Beban Masa Lalu

Persoalan keuangan yang membebani KAI ini mendapat respons langsung dari jajaran manajemen Danantara. Chief Operating Officer BPI Danantara, Dony Oskaria, mengakui bahwa proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung menjadi salah satu pekerjaan rumah terbesar yang harus dibereskan.

"Kami yang baru ini kan sebetulnya menyelesaikan

Reporter: Kemal Batubara
Sumber: harianumum.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top