KALIMANTAN UTARA — BYD resmi meluncurkan Racco di Jepang pada Selasa (22/7) sebagai kendaraan listrik kei car pertama mereka. Model ini dirancang khusus untuk menembus pasar yang selama ini didominasi pemain lokal seperti Nissan, Honda, Toyota, dan Suzuki. Dalam sepekan, BYD Racco langsung membukukan 5.000 unit pemesanan — separuh dari target 10.000 unit yang semula ditargetkan rampung pada 2026.
Lonjakan minat ini terlihat dari lalu lintas di diler. Beberapa outlet mencatat lebih dari 200 kunjungan pelanggan dalam sehari. Bahkan di diler tersibuk, BYD berhasil mengamankan lebih dari 60 unit pemesanan dengan uang muka dalam satu hari. Respons ini jauh lebih kuat dibandingkan model BYD sebelumnya di Jepang.
Data reservasi menunjukkan 70 persen pemesan berencana menukar tambah mobil kei car lama mereka. Sementara 30 persen sisanya akan menjadikan Racco sebagai kendaraan kedua di rumah. Artinya, BYD tidak hanya merebut pembeli baru, tetapi juga mulai menggerus pangsa pasar pemilik kei car konvensional.
BYD Racco dibanderol mulai ¥2.145.000 atau sekitar Rp228,5 juta (kurs Rp16.000). Dengan subsidi pemerintah Jepang sebesar ¥150.000 (Rp16 juta), harga efektifnya turun menjadi ¥1.995.000 atau sekitar Rp212,5 juta. Bandingkan dengan Nissan Sakura, kendaraan listrik terlaris Jepang saat ini, yang dibuka dari ¥2.448.600 (Rp261,5 juta).
Meski begitu, Honda N-Box sebagai mobil terlaris Jepang secara keseluruhan masih lebih murah dengan harga awal ¥1.739.100 (Rp185,5 juta). Namun BYD unggul dalam efisiensi dan biaya perawatan berkat motor listrik yang lebih sederhana ketimbang mesin bensin.
Selain biaya operasional rendah, BYD Racco menawarkan fitur khas mobil listrik modern: pembaruan perangkat lunak over-the-air (OTA) yang bisa menambah fungsi baru layaknya ponsel pintar. Pendekatan software-defined vehicle (SDV) ini menjadi nilai jual yang sulit ditandingi kei car konvensional bikinan pabrikan Jepang.
Dengan kombinasi harga kompetitif, jarak tempuh panjang, dan kemampuan update fitur jarak jauh, BYD Racco berpotensi mengubah peta persaingan di segmen kei car yang selama ini sangat tradisional. Pemesanan yang melampaui ekspektasi dalam sepekan membuktikan bahwa konsumen Jepang mulai melirik alternatif listrik dari pabrikan asing.