KALIMANTAN UTARA — Institut Vulkanologi dan Seismologi Filipina (Phivolcs) mengonfirmasi bahwa pergeseran di Palung Cotabato telah mendorong naik sebagian dasar laut. Fenomena yang dikenal sebagai coastal uplift ini pertama kali dilaporkan warga dua hari pascagempa. Tim dari Departemen Lingkungan Hidup yang diterjunkan ke lokasi menemukan terumbu karang dan lamun dalam kondisi terpapar di atas permukaan air.
Seorang pejabat Departemen Lingkungan Hidup Filipina kepada AFP menyatakan bahwa organisme laut yang terangkat ikut mati. "Terumbu karang dan padang lamun mulai mati, bersama dengan organisme yang hidup di sana, seperti ikan, belut, kerang, dan moluska," ujarnya.
Hingga saat ini, otoritas setempat belum bisa memastikan luas total wilayah pesisir yang terdampak pengangkatan tersebut. Tim survei masih bekerja memetakan area yang mengalami perubahan topografi secara tiba-tiba ini.
Dewan Nasional Pengurangan dan Manajemen Risiko Bencana Filipina mencatat, hingga 14 Juni, gempa bumi dan rangkaian gempa susulan telah memengaruhi lebih dari 173.000 rumah tangga atau setara 724.000 jiwa. Sebanyak 54.000 unit rumah rusak, dengan hampir 10.000 di antaranya hancur total.
Sedikitnya 61 orang dilaporkan tewas, sementara 40 orang lainnya masih dinyatakan hilang. Kerusakan juga melanda 725 fasilitas infrastruktur, dengan kerugian diperkirakan mencapai 1 miliar peso atau sekitar 16,2 juta dolar AS.
Ancaman geologis belum berakhir. Survei Geologi AS (USGS) mencatat gempa bumi berkekuatan magnitudo 5 kembali terjadi pada pagi hari 14 Juni di titik 33 kilometer timur-tenggara Provinsi Sarangani. Phivolcs terus mencatat gempa-gempa susulan di kawasan yang sama, menambah kekhawatiran warga yang masih bertahan di lokasi pengungsian.