KALIMANTAN UTARA — Kekalahan Bafana Bafana dari Meksiko di Grup A tak hanya soal skor. Menurut McCarthy, yang pernah memperkuat Blackburn Rovers dan West Ham United, tim asuhan Hugo Broos kehilangan identitas permainan sepenuhnya. “Mereka mengerikan. Saya tidak percaya dengan apa yang saya lihat. Saya berharap Afrika Selatan bisa tampil, setidaknya menunjukkan kekuatan kami, tapi kami kehilangan identitas,” ujar McCarthy kepada BBC Sport.
Kekalahan 0-2 di Azteca sebenarnya terbilang ringan. Faktanya, Afrika Selatan bermain dengan dua pemain yang diusir wasit sejak babak pertama. “Mereka lolos dengan 'hukuman' ringan,” sindir McCarthy. Ia langsung mengarahkan pandangan ke laga berikutnya melawan Republik Ceko.
McCarthy mengingatkan bahwa Ceko sudah menunjukkan pola permainan berbahaya saat melawan Korea Selatan: umpan silang, bola mati, dan lemparan ke dalam yang agresif. “Mereka akan menganalisis Afrika Selatan dan sadar kami lemah dalam menghentikan umpan silang. Itu cara lain untuk menekan kami, seperti yang dilakukan Meksiko lewat gol Raul Jimenez dari situasi bola mati,” tambahnya.
Lebih dari sekadar hasil, McCarthy mengungkapkan betapa rendahnya moral publik sepak bola Afrika Selatan. “Orang-orang di rumah tidak percaya kami tidak bisa menunjukkan sepak bola Afrika Selatan yang sesungguhnya,” ungkapnya. Ia pesimistis Bafana Bafana akan bisa bermain lepas di dua laga tersisa melawan Republik Ceko dan Korea Selatan.
“Mereka akan bermain aman, menghitung-hitung agar tidak kalah dua kali. Mungkin kita tidak akan pernah melihat mereka bermain sesuai keinginan,” pungkas McCarthy.
Afrika Selatan saat ini berada di dasar klasemen Grup A tanpa poin. Dua laga selanjutnya menjadi penentu: melawan Republik Ceko (matchday 2) dan Korea Selatan (matchday 3). Kekalahan lagi bisa memastikan langkah mereka terhenti di fase grup. Sementara Meksiko untuk sementara memuncaki klasemen usai kemenangan perdananya.