BRIN Nilai Program Konservasi Astra Agro Dukung Target Biodiversitas Nasional 2025-2045

Penulis: Kemal Batubara  •  Minggu, 07 Juni 2026 | 20:14:31 WIB
Tim BRIN melakukan kajian konservasi keanekaragaman hayati di area operasional Astra Agro, Kalimantan Utara.

KALIMANTAN UTARA — Kunjungan tersebut merupakan bagian dari kajian BRIN terhadap kontribusi sektor swasta dalam memenuhi Target 15 Kerangka Kerja Keanekaragaman Hayati Global Kunming-Montreal serta Target Nasional 18 dalam Indonesian Biodiversity Strategy and Action Plan 2025–2045. BRIN secara spesifik meninjau praktik perlindungan area bernilai konservasi tinggi, pemantauan biodiversitas, dan rehabilitasi ekosistem yang diterapkan Astra Agro.

Data Pemantauan: 1.579 Spesies Flora dan 755 Fauna

Sekretaris Eksekutif Sekretariat Kewenangan Ilmiah Keanekaragaman Hayati BRIN Ruliyana Susanti menyatakan, inisiatif perusahaan sawit itu relevan dengan upaya pelestarian hayati nasional. "BRIN mengapresiasi keterbukaan Astra Agro dalam memperlihatkan praktik pengelolaan dan konservasi keanekaragaman hayati yang diterapkan di area operasional perusahaan," ujar Ruliyana dalam keterangannya, Minggu (7/6/2026).

Dalam kunjungan itu, Ruliyana didampingi Prof Gono Semiadi, anggota tim nasional penulis Natrep 7 dari Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi BRIN. Sepanjang 2025, Astra Agro mencatat pemantauan terhadap 1.579 spesies flora dan 755 spesies fauna di area operasionalnya. Perusahaan juga merehabilitasi 193,09 hektare lahan melalui penanaman 49.390 pohon pada periode yang sama.

Area Konservasi dan Larangan Ekspansi di Lahan Bernilai Tinggi

Direktur Operasional Area Kalimantan Tengah Astra Agro Hubbal Khoir Sembiring menjelaskan, perusahaan melindungi dan mengelola area Nilai Konservasi Tinggi serta Stok Karbon Tinggi. Ekosistem alami seperti sempadan sungai, hutan sekunder, dan lahan gambut dijaga tanpa pengembangan di area yang teridentifikasi memiliki nilai konservasi atau stok karbon tinggi.

"Perseroan juga memperkuat pemantauan biodiversitas melalui inventarisasi dan pencatatan flora serta fauna di area operasional," kata Hubbal. Ia menambahkan, kegiatan itu menjadi dasar untuk menilai tren keanekaragaman hayati, mengidentifikasi spesies kunci, serta mengevaluasi efektivitas pengelolaan kawasan konservasi.

Kolaborasi Riset dan Industri untuk Kebijakan Berbasis Sains

Menurut Ruliyana, kolaborasi antara lembaga riset dan sektor swasta penting untuk memperkaya data serta praktik baik yang mendukung pengambilan kebijakan. "Kolaborasi antara lembaga riset dan sektor swasta penting untuk memperkaya data, pengetahuan, serta praktik baik yang dapat mendukung pengambilan kebijakan berbasis sains dan memperkuat pencapaian target konservasi nasional," paparnya.

Hubbal menegaskan, kunjungan BRIN menjadi wujud keterbukaan perusahaan dalam memperlihatkan implementasi komitmen keberlanjutan di lapangan. Dalam industri kelapa sawit, isu deforestasi, perlindungan habitat, pengelolaan gambut, pencegahan kebakaran lahan, pengurangan emisi, dan ketertelusuran rantai pasok menjadi perhatian utama pemangku kepentingan.

"Melalui kunjungan ini, Astra Agro ingin memperlihatkan berbagai inisiatif konservasi yang telah dijalankan, sekaligus membuka ruang masukan dan kolaborasi agar upaya pelestarian keanekaragaman hayati dapat terus diperkuat," ujar Hubbal. Ia berharap praktik konservasi yang dijalankan dapat memperkaya kajian ilmiah dan menunjukkan bahwa industri sawit dapat mengambil peran dalam agenda konservasi melalui pengelolaan yang mengedepankan keterbukaan, ketertelusuran, dan tanggung jawab lingkungan.

Reporter: Kemal Batubara
Sumber: liputan6.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top