TANJUNG SELOR — Kebutuhan dana yang sangat besar untuk menyelesaikan proyek jalan Malinau-Krayan diungkapkan langsung oleh Kepala BPJN Kaltara dalam keterangan resmi. Angka Rp 5 triliun tersebut merupakan estimasi total yang diperlukan agar ruas jalan tersebut benar-benar tembus dan layak dilalui sepanjang tahun.
BPJN Kaltara menjelaskan bahwa tingginya biaya pembangunan dipengaruhi oleh kondisi geografis yang ekstrem. Sebag besar trase jalan berada di kawasan perbukitan dengan kontur tanah yang labil dan seringkali tertutup kabut tebal. Kondisi ini membuat proses penggalian dan pengerasan badan jalan berlangsung lambat dan membutuhkan teknologi khusus.
Selain itu, jarak tempuh yang jauh dari pusat logistik di Tanjung Selor atau Tarakan juga menjadi faktor pembengkakan biaya. Material bangunan seperti semen dan baja harus diangkut melalui jalur sungai atau udara, yang biaya transportasinya jauh lebih mahal dibandingkan di daerah lain di Kalimantan.
Meskipun kebutuhan anggaran masih besar, proses pembangunan jalan yang sudah dimulai sejak beberapa tahun lalu terus berjalan. Pemerintah pusat melalui Kementerian PUPR telah mengalokasikan dana secara multiyears untuk mengerjakan paket-paket pekerjaan di ruas ini.
Beberapa seksi jalan di wilayah dataran rendah sudah mulai menunjukkan hasil, namun tantangan terberat ada di seksi tengah yang melintasi Pegunungan Krayan. BPJN menargetkan agar ruas ini dapat berfungsi optimal dalam beberapa tahun ke depan, meskipun pengguna jalan masih harus bersabar dengan kondisi yang ada saat ini.
Jalan Malinau-Krayan merupakan urat nadi bagi warga di Kecamatan Krayan yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Selama ini, akses transportasi darat sangat terbatas, membuat harga barang kebutuhan pokok di kawasan itu melonjak drastis. Masyarakat lebih sering bergantung pada jalur udara atau menyeberang ke negara tetangga untuk memenuhi kebutuhan.
Dengan tuntasnya jalan ini, BPJN optimistis biaya logistik dapat ditekan hingga setengahnya. Hal ini diharapkan mampu menurunkan harga sembako dan membuka peluang ekonomi baru di sektor pertanian dan pariwisata di dataran tinggi Krayan yang terkenal dengan produksi kopi arabika organiknya.