BPJN Kaltara Lelang Pembangunan Jembatan Semamu dan Binuang, Target Akses Darat Malinau-Krayan Tembus 2027

Penulis: Hendri Saputra  •  Jumat, 05 Juni 2026 | 18:31:51 WIB
BPJN Kaltara melelang pembangunan Jembatan Semamu dan Binuang sebagai bagian proyek akses darat Malinau-Krayan.

TANJUNG SELOR — Keterisolasian kawasan perbatasan di Kalimantan Utara mulai menemukan titik terang. BPJN Kaltara resmi melelang pembangunan dua jembatan utama, yaitu Jembatan Semamu dan Jembatan Binuang, yang menjadi fondasi jalur darat dari Malinau menuju Krayan.

Kepala BPJN Kaltara menyebut proyek ini merupakan prioritas nasional untuk membuka akses logistik dan mobilitas warga di perbatasan Indonesia-Malaysia. Target penyelesaian seluruh ruas jalan ini ditetapkan pada 2027.

Dua Jembatan Kunci yang Dilelang Sekaligus

Jembatan Semamu dan Jembatan Binuang merupakan dua titik krusial yang selama ini menjadi penghambat utama pembangunan jalan darat lintas Malinau-Krayan. Kedua jembatan ini akan melintasi sungai-sungai besar di wilayah hulu.

Proses lelang saat ini tengah berlangsung. BPJN Kaltara menargetkan kontraktor pemenang bisa segera ditetapkan dalam waktu dekat agar pengerjaan fisik bisa dimulai tahun ini juga.

Mengapa Akses Darat ke Krayan Begitu Vital?

Selama puluhan tahun, Kecamatan Krayan hanya terhubung melalui bandara perintis dan jalur sungai yang bergantung pada musim. Warga harus mengeluarkan biaya transportasi tinggi untuk mengirim hasil bumi seperti kopi krayan dan buah merah.

Dengan tembusnya jalur darat, BPJN optimistis biaya logistik bisa ditekan hingga setengahnya. Selain itu, akses pendidikan dan kesehatan bagi warga di 30-an desa di Krayan juga akan terbuka lebar.

Fakta Singkat Proyek Jembatan Semamu dan Binuang

  • Lokasi: Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, menuju Kecamatan Krayan di perbatasan RI-Malaysia
  • Target penyelesaian: 2027, mencakup seluruh ruas jalan darat Malinau-Krayan
  • Status: Tahap lelang oleh BPJN Kaltara, pemenang kontrak segera ditentukan

Dampak Langsung bagi Warga Perbatasan

Warga Krayan selama ini mengandalkan pesawat perintis untuk keluar-masuk Malinau dengan biaya tiket sekali jalan mencapai Rp 1 juta per orang. Jika jalan darat tembus, perjalanan yang kini memakan waktu berhari-hari via sungai bisa dipangkas menjadi 8-10 jam perjalanan darat.

BPJN Kaltara juga memastikan pembangunan jembatan ini akan mengikuti standar jalan nasional kelas II, sehingga mampu dilalui truk pengangkut barang dan kendaraan roda empat lainnya. Hal ini menjadi angin segar bagi petani kopi krayan yang selama ini kesulitan mendistribusikan produknya ke luar daerah.

Reporter: Hendri Saputra
Sumber: radartarakan.jawapos.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top