TANJUNG SELOR — Keterisolasian kawasan perbatasan di Kalimantan Utara mulai menemukan titik terang. BPJN Kaltara resmi melelang pembangunan dua jembatan utama, yaitu Jembatan Semamu dan Jembatan Binuang, yang menjadi fondasi jalur darat dari Malinau menuju Krayan.
Kepala BPJN Kaltara menyebut proyek ini merupakan prioritas nasional untuk membuka akses logistik dan mobilitas warga di perbatasan Indonesia-Malaysia. Target penyelesaian seluruh ruas jalan ini ditetapkan pada 2027.
Jembatan Semamu dan Jembatan Binuang merupakan dua titik krusial yang selama ini menjadi penghambat utama pembangunan jalan darat lintas Malinau-Krayan. Kedua jembatan ini akan melintasi sungai-sungai besar di wilayah hulu.
Proses lelang saat ini tengah berlangsung. BPJN Kaltara menargetkan kontraktor pemenang bisa segera ditetapkan dalam waktu dekat agar pengerjaan fisik bisa dimulai tahun ini juga.
Selama puluhan tahun, Kecamatan Krayan hanya terhubung melalui bandara perintis dan jalur sungai yang bergantung pada musim. Warga harus mengeluarkan biaya transportasi tinggi untuk mengirim hasil bumi seperti kopi krayan dan buah merah.
Dengan tembusnya jalur darat, BPJN optimistis biaya logistik bisa ditekan hingga setengahnya. Selain itu, akses pendidikan dan kesehatan bagi warga di 30-an desa di Krayan juga akan terbuka lebar.
Warga Krayan selama ini mengandalkan pesawat perintis untuk keluar-masuk Malinau dengan biaya tiket sekali jalan mencapai Rp 1 juta per orang. Jika jalan darat tembus, perjalanan yang kini memakan waktu berhari-hari via sungai bisa dipangkas menjadi 8-10 jam perjalanan darat.
BPJN Kaltara juga memastikan pembangunan jembatan ini akan mengikuti standar jalan nasional kelas II, sehingga mampu dilalui truk pengangkut barang dan kendaraan roda empat lainnya. Hal ini menjadi angin segar bagi petani kopi krayan yang selama ini kesulitan mendistribusikan produknya ke luar daerah.