NUNUKAN — Ratusan orang tua di Desa Sungai Limau, Kecamatan Sebatik Tengah, terpaksa menggendong anak-anak mereka menyeberangi sungai untuk sampai ke sekolah. Langkah nekat itu ditempuh setelah jembatan gantung yang menjadi satu-satunya akses penghubung ambruk diterjang banjir bandang, Senin (17/3) lalu.
Peristiwa itu membuat aktivitas belajar mengajar di MI Darul Furqon lumpuh total. Sekolah yang berada di seberang sungai itu hanya bisa dijangkau dengan berjalan kaki menyusuri tebing dan menyeberangi arus sungai yang masih deras.
Sejumlah orang tua mengaku tak punya pilihan lain. Mereka menggendong anaknya satu per satu, berjalan di atas puing-puing jembatan yang tersisa, lalu menyeberangi sungai setinggi pinggang orang dewasa.
"Tidak ada jalan lain. Anak-anak harus ujian. Kalau tidak sekolah, mereka ketinggalan pelajaran," ujar Siti Rahma, salah satu orang tua murid, kepada wartawan di lokasi, Rabu (19/3).
Banjir yang melanda Sebatik Tengah sejak Minggu (16/3) malam tak hanya merendam pemukiman. Air yang meluap dari Sungai Sebatik juga menggerus tanah di bawah pondasi jembatan gantung sepanjang 40 meter itu hingga akhirnya ambruk.
Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nunukan mencatat tiga desa terdampak banjir: Desa Sungai Limau, Desa Bukit Harapan, dan Desa Tanjung Karang. Ratusan rumah warga terendam air setinggi 50 sentimeter hingga 1 meter.
Kepala MI Darul Furqon, Ahmad Zaini, mengatakan pihak sekolah tetap memaksakan ujian berlangsung. Sebanyak 87 siswa dari kelas 1 hingga kelas 6 dijadwalkan mengikuti ujian tengah semester pekan depan.
"Kami sudah menyiapkan tenda darurat di halaman sekolah. Kalau akses belum pulih, ujian tetap jalan. Anak-anak tidak boleh dirugikan," kata Ahmad.
Pemerintah Kabupaten Nunukan telah mengirimkan bantuan logistik berupa makanan siap saji, air bersih, dan selimut ke lokasi pengungsian. Tim gabungan dari BPBD, TNI, dan Polri juga sudah diterjunkan untuk memasang jembatan darurat sementara.
"Kami targetkan jembatan darurat bisa berfungsi dalam tiga hari ke depan. Prioritas utama kami adalah memulihkan akses pendidikan dan distribusi logistik," ujar Kepala BPBD Nunukan, Faisal Rahim, dalam keterangan pers, Kamis (20/3).