KALIMANTAN UTARA — Pembukaan perdagangan hari ini memperlihatkan sentiment risiko yang bergeser. Rupiah dibuka di zona merah dengan pelemahan 0,43% ke level Rp17.480/US$ berdasarkan data Refinitiv, mencerminkan flight to safety investor seiring kembalinya ketegangan geopolitik. Dolar dan aset berkorelasi tinggi dengan keamanan global menjadi incaran utama.
Negosiasi gencatan senjata yang berlaku sejak 7 April kini di ujung tanduk. Trump mengatakan respons Iran "sama sekali tidak dapat diterima" setelah Teheran mengajukan serangkaian tuntutan sekaligus: penghentian konflik di semua front termasuk Lebanon, kompensasi atas kerusakan perang, pencabutan blokade laut AS, jaminan tidak ada serangan lanjutan, dan pemulihan ekspor minyaknya.
Yang paling mengkhawatirkan pasar global adalah penekanan Iran untuk mengamankan kendali atas Selat Hormuz—jalur laut yang biasanya mengangkut sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia. Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf memperingatkan bahwa militer Iran siap merespons setiap agresi, menunjukkan postur pertahanan yang semakin tegas.
Ketidakpastian segera berdampak pada sektor energi global. Minyak Brent Crude naik lebih dari 3% melampaui US$104 per barel. Di lapangan, arus kapal melalui Selat Hormuz senyap drastis, memaksa produsen minyak memangkas ekspor dan menekan pasokan global lebih jauh lagi.
Paralel dengan itu, AS menjatuhkan sanksi baru terhadap pihak-pihak yang membantu Iran mengekspor minyak ke China, mengencangkan lingkaran geopolitik di sekitar pasokan energi dunia.
Trump dijadwalkan bertemu Presiden Xi Jinping di Beijing pada Rabu mendatang. Isu Iran diperhitungkan menjadi salah satu agenda utama, mengingat China adalah pembeli minyak Iran terbesar. Bagaimana negosiasi Trump terhadap ekspor minyak Iran ke China bisa menjadi titik tekan dalam pembicaraan tersebut.
Sementara itu, survei publik dalam negeri menunjukkan 2 dari 3 warga Amerika menilai Trump belum menjelaskan secara jelas tujuan perang, menambah tekanan domestik seiring berlarut-larutnya ketegangan dengan Iran. Bagi investor Indonesia, volatilitas rupiah dan pasar energi berpotensi terus berlanjut hingga ada resolusi nyata dari negosiasi tersebut.